Tag Archives: barbie

Namanya Anggi

16 Feb

Pada postingan kali ini, izinkan saya menceritakan seorang teman masa kecil. Namanya Anggi (cowok). Layaknya adegan dalam komik Jepang, kami pernah berjanji, saat masih kecil, akan menikah saat sudah besar nanti.

Komik Jepang memang bukan bacaan untuk anak-anak.

*
Di sela-sela kepenatan mengerjakan tugas akhir, saya masih menyempatkan diri untuk menonton serial tv hollywood, salah satunya Glee. Pada episod 8 (Furt) season 2, Ken menyatakan janjinya untuk menikahi Barbie suatu saat nanti sambil mengeluarkan sebuah cincin, cincin perjanjian. Barbie menjawab, “What are you, six?“.

Lucu. Dan unyu.

*
Promise ring dan six years old kids membawa memori saya kembali ke masa SD, saat ada Anggi dan saya. Ikrar (baca: lelucon) tersebut diucapkan saat kami masih kelas 1 SD. Percayalah, kami bahkan belum mengerti konsep menikah.

Saat kelas 2 saya harus pindah ke kota lain. Belum canggihnya komunikasi pada masa itu, saya pun kehilangan kontak dengan Anggi. Saya tidak tau harus senang atau sedih atas kepindahan saya dan hilangnya kontak antara saya dengan Anggi. Dalam usia yang sangat muda sudah terikat pada satu orang.

Romantis, sekaligus menyeramkan.

Tentu saja saya yang sekarang ini tidak menganggap serius ikrar (baca: lelucon) masa kecil itu. Saya tidak tau mantan calon suami saya itu sekarang ada dimana dan bagaimana kabarnya. Saya bahkan akan sangat kaget kalau ternyata saya bukan satu-satunya yang masih ingat pada ikrar (baca: lelucon) tersebut.

*
Namanya Anggi. Saya bahkan sudah tidak ingat nama panjangnya. Saya dan Anggi pernah berjanji, saat masih kecil, akan menikah saat sudah besar nanti. Janji seperti itu yang (sepertinya) boleh tidak ditepati.

Atau, janji seperti itu yang tidak boleh dengan gampangnya diucapkan.

Advertisements

permainan masa kecil

21 Feb

masa kecil kerap menghantui saya belakangan ini. saya masih dalam masa introspeksi diri. termasuk mengingat2 masa kecil saya. bagaimana saya saat itu. dan bagaimana saya bisa menjadi diri saya yang sekarang. apa yang berubah dan apa yang tetap melekat pada diri saya..

ketika masih sekolah dasar.. permainan di luar rumah saya bersama anak teman perempuan adalah berenang, main basket, dan main sepeda. bersama anak teman laki2 adalah main scrabble, main tenis, dan main tenis meja. bersama keduanya adalah main boling, main kasti, main benteng, main pakpung, dan main cakbur. dua permainan yang disebut belakangan adalah nama permainan dengan menggunakan bahasa daerah.. saya tidak tahu apakah permainan tersebut mempunyai nama bahasa indonesia ataupun tersebar di bagian indonesia yang lain.

saya lebih sering melakukan aktivitas di luar rumah saat masih kecil. tidak heran warna kuliat saya sekarang coklat gosong begini. dan mungkin karena alasan itu juga saya malas beraktivitas di bawah matahari sekarang ini.. sudah cukup jam terbang saya saat jaman kecil dulu saja hehe.

UNO

permainan di dalam rumah bersama teman perempuan adalah uno, halma, congklak, masak2, dan internetan. bersama teman laki2 adalah monopoli, domino, dan barbie *demi tuhan.. percaya aja deh sama saya*. selain dari bermain2 dengan teman2.. saat kecil saya juga sudah terbiasa dengan les2 seperti les tari, les bahasa inggris, les gambar, dan les organ. klub renang dan klub tenis juga termasuk.

Domino

sering saya miris melihat adik2 sepupu saya yang lebih sering bermain di dalam rumah bersama1 teman2nya, atau bahkan tanpa teman sama sekali. melakukan permainan tanpa gerakan, kecuali kalau olahraga jari2 tangan termasuk aktivitas bergerak. termasuk playstation, games komputer, dan jenis2 permainan di depan layar lainnya *tidak heran sepupu2 saya putih2 semua.. loh? ;p*.

ada juga anak kecil yang les kesana kesini.. waktu bermain jadi kurang sedikit sekali. karena sore dipakai buat les, malam buat bikin peer. padahal usia sekolah dasar adalah masa senang-senang, merasakan nikmatnya menjadi anak kecil. yang tidak perlu pusing memikirkan permasalah dunia keluarga. masa2 indah yang sayang sekali kalau dilewatkan dalam bentuk yang berbeda.. atau bahkan menjadi terlewat sama sekali.

permainan tradisional akan semakin kehilangan bentuknya.. tidak ada yang mewarisi tergilas oleh perubahan gaya hidup masyarakat. anak kecil lebih sering berada di dalam rumah ketimbang di luar rumah.. menghirup udara bebas. yang dihirup adalah udara hasil pendingin ruangan (baca: AC) di dalam rumah. kurang bergerak, terlindung di dalam dinding rumah yang aman.. menyebabkan anak2 menjadi lebih rentan terhadap penyakit.

generasi muda indonesia yang akan datang… sayang sekali