Archive | sport RSS feed for this section

[Review] Baby O’s Disposable Diapers

23 Jan

When fall in love, people tends to give whatever best for their loved ones. Including parents’ love to their kids. They’ll do everything, including sacrifice, to make sure their kids get the best ones. That’s how deep we love Baby O.

It’s commonly known that baby’s diaper and baby’s milk contributed the biggest share of baby daily’s expense. Thank goodness Baby O still gets his exclusive breastmilk, so I could transfer the budget from milk to be added up to diaper’s budget 😂

Baby O’s daily disposable diapers history:

1️⃣ Fitti: too thin, possible leak, kind of rough on Baby O’s butt, cause redness. Baby O only wears it for 3 days in the hospital, because it is free for newborn baby

2️⃣ Nepia orange: thin, no leak, soft, no redness. Baby O has worn it from New Born size to L Tape size. Mommy and Baby O loves it so much ❤️

3️⃣ Mamypoko Extradry blue: bulky, no leak, not so rough, sometimes rash. Occassionally buys small amount for stock in case mommy doesn’t have time to buy Nepia orange/genki in Fany Baby Shop at ITC Ambassador

4️⃣ Happy Diapers: just tried the free samples of XL Pant size. A little bit softer than Nepia orange, thin, no leak, no redness visible, extra cute diaper patterns that Baby O loves (see picture below)

5️⃣ Nepia genki: thin, no leak, extra soft, softest than all, totally no redness. Baby O recently wears it because Nepia orange is very hard to find 😦

Ori 39w7d old: Chooses cute Happy Diapers over Nepia genki

It seems Baby O will continue to wear Nepia orange L54 Tape (whenever available) or Nepia genki L54 Tape. Mommy rather chooses Tape diaper than Pant diaper because on the same display size, Tape diaper has larger actual size than Pant diaper. But if Baby O is invited to any diapers party, will surely show up with cute Happy Diapers hihi 😆

On a side note, Baby O also wears disposable swim diaper, Pampers Splashers. They won’t get bulky when wore in the pool, so Baby O can float easily, nothing weighing him down. They also available in cute characters too, like the sesame street edition that I usually buy for Baby O. Uber cute! 😍

Ori 27w2d old: Ready to first swim


Baby Milestones[2]: Walking and Kicking

2 Jan

Happy new year 🎉🎉🎉

Baby O closed the year 2016 by learning how to walk. It’s kind of cute that he’s always looking for his mommy’s or daddy’s fingers now as his sign that he wants to walk. A few steps at first, never ending circle-ing the house now. Hopefully husband and I can reduce our belly fat for good. 😂

As a former basketball player, husband has big hope that basketball will be Baby O’s first ball play. Too bad it seems the soccer blood runs thicker from my gene in Baby O’s vein. My father, my uncle, and my brothers are soccer players. Even I was a goalkeeper in my college’s female futsal team. 😉

Ori 40w5d old: First ball kick


Wish us a great year ahead. Hopefully everything runs better in 2017, aamiin 🙂

Click here to read last Baby O’s baby milestone post

Respect to London Olympic 2012

2 Aug

Recent news from London Olympic 2012 that interest me was 4 pairs of badminton women’s double players (Chinese, South Korean, and Indonesian) were disqualified from the tournament because they deliberately lose on the games to avoid certain opponents in the next round. One of the pairs is Meiliana Jauhari and Greysia Polli, Indonesian women’s double.

Am I sad hearing the news? As a supporter from Indonesia, I indeed am. As a badminton lover, I am not. In fact, I’m glad the committee decided to punish the pairs. Despite of what happened in fencing, it has been said that judges favored German over South Korea, I can see this scandal in badminton as a good thing from London Olympic 2012.

Badminton Game in The Wembley Arena, London Olympic 2012

Believe me. I was in so much disappointment when South Korea set the game, purposely lose in Thomas Cup 2008, to avoid meeting China in the earlier round. Yet in the end, they were defeated by Chine in the final. If they didn’t set up the game, they wouldn’t have been reached the final. Though it’s publicly known that China has been doing this kind of practice for a long time, and the Badminton World Federation (BWF) did nothing about it.

But not with London Olympic 2012 committee. They won’t let this happen in their event, because that kind of thing does not reflect “a spirit of friendship, solidarity and fair play”, as mention by the Olympic charter what the games in the olympic are about. So the committee urged the BWF to do something about it, and the BWF finally punished those pairs to let them understand that what they did is wrong and falsely give message of sportivity.

I can only wish that every athletes do their best in every game they play, that is to win the game. Setting up the game by purposely lose to avoid certain opponents in the next round is not a strategy. In fact, it’s falsify the sportivity of the game.

Source:: Reuters1 Reuters2

Lagu Persembahan Untuk Tim Nasional

30 Dec

Menyambung tulisan saya sebelumnya, ternyata kita masih belum bisa membawa pulang Piala AFF. Kalau mau lihat sisi positifnya, pecinta bola di Indonesia semakin bisa mendesak Nurdin Halid untuk mundur dari jabatannya. Walaupun saya yakin beliau tidak akan mau meletakkan jabatannya begitu saja. Muka badak, kulit setebal kulit gajah.

Tanggapan suporter bola di Indonesia pasca kekalahan timnas berbeda-beda. Ada yang bangga melihat permainan timnas di final leg kedua. Ada yang sedih karena piala yang sepertinya sudah dalam genggaman itu terlepas dari tangan. Ada yang masih belum bisa menerima kekalahan dengan mencari-cari kambing hitam penyebab timnas kalah.

Ada juga yang menyatakan, “kalah menang bukan yang utama, it’s just a game. Yang penting timnas sudah menunjukkan kemajuan dan timnas yang saat ini dirasa mampu untuk lebih berprestasi di masa depan. Kalau bukan positive thinking namanya, sepertinya menghibur diri lebih tepat.

Berapa banyak dari kamu yang hafal lagu Garuda di Dadaku?

Lagu kebangsaan milik suporter Indonesia itu sebenarnya sudah lama dinyanyikan di setiap pertandingan timnas. Hanya saja, lagu tersebut di-remake oleh band Netral sebagai soundtrack film berjudul sama dengan judul lagunya, Garuda di Dadaku, dengan penambahan beberapa baris lirik.

Berapa banyak dari kamu yang tau lagu persembahan band Weezer, Represent, untuk United States National Football Team selama World Cup 2010 kemarin?

Yuk kita bandingkan keduanya.


Garuda di Dadaku

I’m sick and tired of everybody trying to tell me what to do
If I’m in need of your advice then surely I would come to you
I didn’t get in this position just by happenstance
I work my bones beyond my limit just to have half a chance

Ayo putra bangsa
Harumkan negeri ini
Jadikan kita bangga

It matters how you play the game
It matters that you can take the pain
You don’t want to lie, steal, or cheat your way to the top
It matters what your people think
You represent your family
But that’s just one more reason to see
That it matters
Whether you win or lose

Jayalah negaraku
Tanah air tercinta
Indonesia raya

Why don’t we see who is the wizard and play some one on one
I think you’ll find me sympathetic to ya when I’ve won
It’s seems you’ve got the bone to beat me
If beef was all it takes
But I’ve got skills to pay the bills and punish each of your mistakes

Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu

One hundred years from now
They’ll look back on this day
Where are you going to be
And what are they going to say
I see my name in lights
The people call my name
It’s all up to you
Will you find your way?

Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang

It matters how you play the game
It matters that you can take the pain
You don’t want to lie, steal, or cheat your way to the top
It matters what your people think
You represent your family
But that’s just one more reason to see
That it matters
Whether you win or lose

Bedanya, penggalan Garuda di Dadaku bisa dinyanyikan suporter di setiap pertandingan sebagai yel-yel penyemangat timnas Indonesia. Sedangkan Represent sepertinya tidak dinyanyikan selama pertandingan oleh suporter US.

Dari lirik lagu, kesan yang saya dapat pun beda. Represent seolah ingin mengatakan pemikiran suporter US bahwa timnas US harus menang, kalau tidak ingin membuat malu keluarganya, bangsa Amerika. Sedangkan Garuda di Dadaku menyatakan pengharapan dan keyakinan suporter Indonesia bahwa timnas bisa menang.

Arogansi negara adidaya? Mungkin saja. Kerendahan hati bangsa timur? Mungkin saja.

Sebagai negara adidaya, suporter US terbiasa dengan superioritas, oleh karena itu menang dan kalah adalah hal yang penting bagi mereka, it’s beyond a game. Sebagai goal oriented, kemenangan (dalam segala hal) adalah mutlak bagi bangsa US (ditunjukkan dari lagu Represent).

Sebagai negara yang berperang dengan tangan sendiri dari penjajahan untuk mendapatkan kemerdekaan, menang dan kalah adalah nomor sekian bagi bangsa Indonesia. Bagi kita, yang penting adalah semangat berjuang yang ditunjukkan pemain timnas selama bertanding, di lapangan (ditunjukkan dari lagu Garuda di Dadaku).

Jadi, mungkin ada benarnya yang bilang bangga terhadap timnas walaupun tidak memenangkan Piala. Bisa jadi Perasaan tersebut memang benar-benar dirasakan sebagian suporter Indonesia, tidak hanya ucapan manis belaka. Apalagi bagi mereka yang menghargai proses dan tidak berorientasi pada hasil akhir semata.

Bagaimana menurut pendapat kamu?

Ada yang tau bagaimana caranya menulis teks dengan 2 kolom pada WordPress seperti di Microsoft Word? Mohon dibagi ilmunya 🙂

Pejuang Garuda di Dadaku

19 Dec

Piala AFF kali ini dibarengi dengan kehebohan berita naturalisasi pemain Indonesia, Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Terlepas dari pro dan kontra bahwa naturalisasi hanyalah jalan pintas serta keraguan terhadap nasionalisme pemain naturalisasi, mereka berdua sangat dielu-elukan masyarakat Indonesia. Apalagi momen tersebut bersamaan dengan membaiknya prestasi tim nasional. Apakah berarti “pemain asing” lebih baik daripada “pemain lokal”?

Pada pertandingan pertama semifinal, Indonesia yang hanya mempunyai 2 orang pemain naturalisasi dapat mengadalahkan Filipina yang memiliki 9 pemain naturalisasi. Sadarkah kita? Ini sepakbola! Olahraga yang membutuhkan kolektifitas tim, tidak hanya skill individu pemain-pemainnya. Walaupun Gonzales dan Bachdim mempunyai peran yang besar pada keberhasilan timnas di pertandingan-pertandingan sebelumnya, pemain lain pun memiliki peran yang sama besarnya.

Mengenai naturalisasi pemain sepakbola, sudah pernah saya singgung sedikit disini. Sebagai pendukung naturalisasi atlet (tidak hanya cabang olahraga sepakbola) dengan catatan pembinaan sejak dini di Indonesia lebih ditingkatkan lagi, saya mendukung Nurdin Halid harus tetap mundur dari jabatannya. Catatan baik prestasi Indonesia bukan berarti sebuah alasan bagi beliau untuk tidak mundur dari jabatannya. Sir, you’re still a criminal suspect.


Kehebohan berita naturalisasi pemain ini kalau dilihat lebih jauh ternyata hanyalah milik seorang pemain naturalisasi, Bachdim. Mungkin karena ini adalah tahun pertamanya di Indonesia dan bisa langsung masuk ke tim nasional, mengingat Gonzales sudah sangat dikenal oleh publik Indonesia. Ditambah lagi, Bachdim memiliki kharisma tersendiri dimata penonton wanita.

Antusiasme terhadap prestasi timnas dan ketertarikan publik pada pemain timnas secara berlebihan inilah yang merisaukan pelatih tim nasional, Alfred Riedl. Pemberitaan yang berlebihan ditakutkan dapat merusak konsentrasi pemain. Termasuk di dalamnya wawancara (bahkan bukan untuk progam olahraga), peliputan saat latihan, pemberitaan pemain secara komersil, dan lainnya.

Masih ingat iklan, “mau tau keseharian [seleb Indonesia idola kamu]? ketik Reg <spasi> [seleb Indonesia idola] ya” yang sempat bergentayang di saluran televisi Indonesia. Bachdim, si idola baru, pun sudah bisa kamu ketahui kesehariannya :)) (klik disini). Either he thinks he acts like Beckham does the way Bambang Pamungkas sees him (click here) or he really does understand that football is indeed an industry.

Saat konsentrasi pemain tidak lagi sepenuhnya pada pertandingan, pelatih boleh ketar-ketir. Termasuk suporter yang menaruh harapan sangat besar pada keberhasilan timnas di Piala AFF tahun ini. Masih ingatkah kamu Hidetoshi Nakata pernah diperingati oleh pelatih Philippe Troussier pada Piala Dunia 2002 karena lebih memikirkan model rambutnya ketimbang permainannya di lapangan? Itu sindiran, pasti.

Peliputan saat latihan oleh media pun bisa menjadi petaka. Konsentrasi pemain terganggu karena kehadiran media. Atau wartawan malah membocorkan keadaan tim di media, yang notabene adalah konsumsi publik, dan tidak menutup kemungkinan untuk dibaca oleh tim lawan. Padahal kalau di luar negeri, setiap tim harus menyiapkan intelijen handal untuk mengetahu keadaan tim lawan.


Sesuatu yang berlebihan itu tidak pernah baik.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyerang siapapun. Tulisan ini hanyalah suara penggemar yang sangat senang dengan apa yang sudah berhasil dicapai tim nasional Indonesia di Piala AFF 2010 sampai dengan tahap sekarang. Sangat besar harapan saya bahwa tim nasional kita dapat kembali memenangkan pertandingan melawan Filipina nanti malam dan lolos ke babak final.

Semoga nama-nama yang disebutkan pada postingan kali ini dapat mencetak gol untuk Indonesia, tidak menutup kemungkinan bagi pemain tim nasional lainnya. Amin.

Doa kami bersamamu wahai pejuang Garuda. Jayalah terus Indonesiaku.

Sepatu Buluk Kesayangan

24 Aug

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Kuis Sepatu Buluk Berhadiah Sepatu Baru yang diadakan oleh Mas Arman disponspori oleh Wondershoe dan Robinet (kalau mau ikutan silahkan klik disini).

Apakah kamu punya sepatu buluk kesayangan? Atau, pernahkah kamu punya?

Sampai saat ini saya masih menggunakan sepatu Converse All Star kesayangan, yang kalau saya mau membuka mata lebar-lebar ternyata sudah termasuk kategori buluk. Saking buluknya, ibu membelikan saya sepatu baru (dengan inisiatifnya sendiri tanpa saya tanya), meminta saya untuk tidak lagi memakai sepatu keds kesayangan itu, dan menggunakan sepatu baru yang beliau belikan (pernah saya post di twitter saya, untuk membaca silahkan klik disini).

Saat saya, dibeberapa kesempatan, masih tetap menggunakan sepatu kesayangan, ibu saya bahkan berkata, “Jangan dipake lagi dong Na, sepatu kamu udah jelek banget. Masa ntar orang bilangnya, ‘Ini anak kasian banget yaa ga diperhatiin ama orangtuanya, sepatu udah jelek bagitu masih dipake’”. Haha. Ibu saya memang ratu tega kalau milih kata-kata.

Buat kamu yang senang gonta-ganti sepatu, mungkin sama bingungnya dengan ibu saya, kenapa saya masih menggunakan sepatu keds saya itu padahal sudah ada sepatu yang lebih baru. Jawabannya adalah selain karena sepatu buluk itu masih sangat nyaman kalau digunakan, juga karena sepatu tersebut ada nilai historisnya.

Ya, sudah 2 tahun sepatu tersebut menemani saya ke kampus (di Bandung) bahkan sampai ke Bekasi. Setahun yang lalu, si sepatu kesayangan menemani saya setiap hari dengan setia saat saya Kerja Praktek di sebuah perusahaan elektronik di Bekasi. Harap maklum, saya ditempatkan di pabriknya yang notabene sangat aneh sekali kalau saya menggunakan flatshoes disana. Bahkan pekerja-pekerja disana menggunakan sandal jepit kok kalau ke pabrik hehe (untuk membaca ceritanya, klik disini).

2 tahun yang lalu, saya memang membeli si sepatu kesayangan untuk kepentingan kuliah. Tidak ada yang menyangka bahwa sepatu yang saya pilih sendiri tersebut bertahan sampai dengan sekarang, walaupun sudah diajak naik turun tangga dari lantai 3 gedung GKU Barat sampai lantai 3 gedung GKU Timur kampus ITB (jarak antar gedung sekitar 100 m) setiap hari. Diajak main tenis, voli, bahkan futsal kalau saya lagi malas bawa sepatu olahraga ganti.

Jika tidak diperhatikan dengan baik, sepatu ini bahkan terlihat masih bagus, mengingat modelnya memang yang tambal sulam. Tapi kalau kamu lihat bagian bawahnya, jezz.. bolong di bagian ujung belakangnya. Paling apes kalau lagi musim hujan. Saya sudah capek-capek bawa payung agar badan tidak kebasahan, eh ternyata kaki saya yang kebasahan karena air merembes masuk dari bagian bawah sepatu. Dan saya masih tetap setia memakai si sepatu buluk, di musim hujan sekalipun. Haha.

Pernah dengar “Semakin buluk sepatu Converse, semakin keren”? Ya, saya percaya pada mitos yang belum jelas keabsahannya itu hehe. Tapi tidak tahu kenapa mitos tersebut tidak berlaku pada sepatu merk lain ya? Dan sekarang saya sudah harus siap-siap berpisah dengan sepatu buluk kesayangan saya itu. Selain karena saya sudah jarang ke kampus, sudah saatnya saya lebih sering memakai flatshoes untuk persiapan memasuki dunia kerja yang sudah menanti saya didepan sana *halah*. Doakan saja 🙂

Easy Exercise At Home: Playing Hula Hoop

17 Aug

Kebingungan judul apa yang cocok dengan postingan ini, akhirnya saya memilih memberikan judul postingan ini dalam bahasa inggris. Judul boleh saja memakai bahasa inggris, tapi isi postingan ini saya tulis dalam bahasa Indonesia kok. Jadi ingat kebiasaan saya saat awal menulis di blog, judul dalam bahasa inggris tapi isinya dalam bahasa Indonesia hehe. Menipu banget tuh 😀

Berbahagialah kamu jika kamu termasuk golongan orang yang (masih) rajin berolahraga, tidak terhambat oleh waktu dan atau, yang paling penting, rasa malas. Karena itu yang sekarang saya hadapi setiap akan berolahraga di luar rumah, seperti yang dulu saya lakukan. Jadi jangan heran kalau sebulan yang lalu hb (haemoglobin) saya hanya 10.4 saat cek darah. Gila, itu rendah banget!

Sebagai alternatif olahraga yang biasa dilakukan, kita dapat melakukannya di dalam rumah. Pilihan olahraga yang dapat kita lakukan adalah treadmill dan teman-temannya, jika kamu mempunyai alat-alatnya di rumah. Atau simple sit-up push-up. Dapat juga bermain hulahup Yang terakhir saya sebutkan ini merupakan mainan baru saya dalam beberapa minggu terakhir hehe.

bahkan Hulahop dapat dimainkan di kantor bersama kolega

Ya. Ternyata hulahup yang selama ini saya ketahui sebagai permainan anak kecil di luar sana dapat juga kita mainkan (baca: lakukan) sebagai body exercise. Olahraga ringan yang dapat dilakukan dimanapun, termasuk di dalam kamar tidur. Bahkan pada kotak pembungkus hulahup (apa yaa bahasa Indonesia yang cocok, packaging?) yang saya miliki, tertulis sports fun, seperti foto di bawah ini.

Bermain hulahup memang tidak segampang memutarkan tubuh kita. Tapi menurut teman saya, mail, belajar memainkan hulahup dapat dilakukan dalam 1-2 hari. Saya coba, dan terbukti Saya dapat belajar bagaimana menjaga agar hulahup tidak jatuh hanya dalam beberapa kali putar dalam 1 hari saja. Sekarang saya tinggal melatih kemahiran dalam bermain hulahup. Yeiy!

Oh. Sepupu saya yang masih kelas 3 SD bisa memainkan hulahup dengan menggunakan LEHER dan PAHA nya. Gila! Nanti anak perempuan saya (kalau punya :p) harus bisa memainkan hulahup juga dari kecil 😉

Olahraga apa yang lebih kamu pilih? Sit-up push-up di dalam kamar? Treadmill? Jogging dan atau olahraga di bawah matahari lainnya? Atau bermain hulahup seperti saya?