Archive | campus RSS feed for this section

Converse All The Time

22 Mar

Saya masih ingat ketidaksukaan saya pada sepatu Converse ketika masih sekolah. Ya, sepatu keds dengan merk Converse, bukan sepatu keds merk lainnya. Alasannya, hanya karena hampir semua teman saya memakainya. Padahal sekolah tidak pernah mengharuskan siswanya untuk memakai sepatu merk Converse. Sekolah hanya mewajibkan agar siswa memakai sepatu mayoritas berwarna hitam. “Kenapa harus memakai Converse?”, pikir saya waktu itu.

Bagi kamu yang tidak percaya, yakinlah kalau ternyata hukum karma memang berlaku. Juga jangan pernah menyatakan ketidaksukaan pada sesuatu, karena suatu saat penilaian kita bisa berubah.

Saya yang saat sekolah anti-memakai-Converse, saat kuliah ternyata tidak bisa lepas dari Converse. Untungnya saya kuliah di universitas yang rasio perempuan dan laki-lakinya hampir sama banyak. Bayangkan kalau saya harus kuliah di universitas yang lebih banyak perempuannya sehingga menuntut mahasiswinya untuk menjadi feminine, seperti universitas yang saya kunjungi pagi tadi.

Berdasarkan pengalaman saat sekolah dan meminjam sebentar sepatu Converse bukan-warna-hitam milik adik saya, saya jadi yakin kalau sepatu keds paling nyaman dengan harga terjangkau itu memang sepatu keds dengan merk Converse. Terlebih lagi, saat kuliah dibebaskan mau memakai sepatu jenis apa warna apa. Bagi dosen-dosen di jurusan saya, yang penting mahasiswa memakai sepatu yang menutup seluruh kaki saat kuliah. Pakai sendal? Alamat diusir dari kelas. 🙂

Coba tebak, sepatu saya yang mana?

Pernah saya memakai flat shoes ke kampus. Sayang, nasib si sepatu tidak bertahan lama, hanya dalam hitungan beberapa bulan. Mungkin karena kelakuan saya saat memakai flat shoes masih sama grasak-grusuknya dengan ketika saya memakai sepatu keds. :p Alhasil, sepatu cewek yang saya miliki saat ini hanya sepatu formal yang tidak akan mungkin dipakai ke kampus kecuali saat sidang kemarin.

Bahkan, saat sudah lulus pun *sombongnya,  baru juga beberapa hari :p*, saya masih bernyaman-nyaman ria memakai sepatu Converse. Ayah saya sampai komentar, “Udah lulus masih kayak yang gitu juga sepatu kamu?“. Haha, ampun pa.

Saya harus bisa cari kerja yang tidak mengharuskan karyawatinya memakai sepatu berhak. Ada tidak ya? Atau mungkin harapan itu sebenarnya cerminan dari saya belum siap untuk masuk ke dunia kerja?

Sepatu Buluk Kesayangan

24 Aug

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Kuis Sepatu Buluk Berhadiah Sepatu Baru yang diadakan oleh Mas Arman disponspori oleh Wondershoe dan Robinet (kalau mau ikutan silahkan klik disini).

Apakah kamu punya sepatu buluk kesayangan? Atau, pernahkah kamu punya?

Sampai saat ini saya masih menggunakan sepatu Converse All Star kesayangan, yang kalau saya mau membuka mata lebar-lebar ternyata sudah termasuk kategori buluk. Saking buluknya, ibu membelikan saya sepatu baru (dengan inisiatifnya sendiri tanpa saya tanya), meminta saya untuk tidak lagi memakai sepatu keds kesayangan itu, dan menggunakan sepatu baru yang beliau belikan (pernah saya post di twitter saya, untuk membaca silahkan klik disini).

Saat saya, dibeberapa kesempatan, masih tetap menggunakan sepatu kesayangan, ibu saya bahkan berkata, “Jangan dipake lagi dong Na, sepatu kamu udah jelek banget. Masa ntar orang bilangnya, ‘Ini anak kasian banget yaa ga diperhatiin ama orangtuanya, sepatu udah jelek bagitu masih dipake’”. Haha. Ibu saya memang ratu tega kalau milih kata-kata.

Buat kamu yang senang gonta-ganti sepatu, mungkin sama bingungnya dengan ibu saya, kenapa saya masih menggunakan sepatu keds saya itu padahal sudah ada sepatu yang lebih baru. Jawabannya adalah selain karena sepatu buluk itu masih sangat nyaman kalau digunakan, juga karena sepatu tersebut ada nilai historisnya.

Ya, sudah 2 tahun sepatu tersebut menemani saya ke kampus (di Bandung) bahkan sampai ke Bekasi. Setahun yang lalu, si sepatu kesayangan menemani saya setiap hari dengan setia saat saya Kerja Praktek di sebuah perusahaan elektronik di Bekasi. Harap maklum, saya ditempatkan di pabriknya yang notabene sangat aneh sekali kalau saya menggunakan flatshoes disana. Bahkan pekerja-pekerja disana menggunakan sandal jepit kok kalau ke pabrik hehe (untuk membaca ceritanya, klik disini).

2 tahun yang lalu, saya memang membeli si sepatu kesayangan untuk kepentingan kuliah. Tidak ada yang menyangka bahwa sepatu yang saya pilih sendiri tersebut bertahan sampai dengan sekarang, walaupun sudah diajak naik turun tangga dari lantai 3 gedung GKU Barat sampai lantai 3 gedung GKU Timur kampus ITB (jarak antar gedung sekitar 100 m) setiap hari. Diajak main tenis, voli, bahkan futsal kalau saya lagi malas bawa sepatu olahraga ganti.

Jika tidak diperhatikan dengan baik, sepatu ini bahkan terlihat masih bagus, mengingat modelnya memang yang tambal sulam. Tapi kalau kamu lihat bagian bawahnya, jezz.. bolong di bagian ujung belakangnya. Paling apes kalau lagi musim hujan. Saya sudah capek-capek bawa payung agar badan tidak kebasahan, eh ternyata kaki saya yang kebasahan karena air merembes masuk dari bagian bawah sepatu. Dan saya masih tetap setia memakai si sepatu buluk, di musim hujan sekalipun. Haha.

Pernah dengar “Semakin buluk sepatu Converse, semakin keren”? Ya, saya percaya pada mitos yang belum jelas keabsahannya itu hehe. Tapi tidak tahu kenapa mitos tersebut tidak berlaku pada sepatu merk lain ya? Dan sekarang saya sudah harus siap-siap berpisah dengan sepatu buluk kesayangan saya itu. Selain karena saya sudah jarang ke kampus, sudah saatnya saya lebih sering memakai flatshoes untuk persiapan memasuki dunia kerja yang sudah menanti saya didepan sana *halah*. Doakan saja 🙂

Tingkat Kepadatan Kelas

7 Jul

Tadi sore saya tidak sengaja mendengar pembicaraan seorang bapak dengan anaknya, “Satu kelas isinya 54 orang? Banyak banget..?”. Anak perempuan tersebut (sepertinya) akan melanjutkan pendidikan ke SMA dan percakapan yang tidak sengaja saya dengar itu adalah pembahasan setelah pendaftaran ke SMA. Sayang, saya tidak sempat mencuri dengar jawaban sang anak ataupun SMA mana yang sedang dibicarakan tersebut 😉

Sejujurnya saat mendengar pertanyaan dan pernyataan si bapak, saya langsung terngiang pada SMA saya dulu. Betapa jumlah siswa dalam 1 kelas tidak jauh berbeda dengan jumlah yang disebutkan. Serta bagaimana suasana di dalam kelas kala itu. Menurut saya ketika itu? Sumpek.

Saat masih SD, saya hanya sekelas dengan 13 orang lainnya. Di SMP, meningkat jadi 20 teman sekelas. SMA kelas 1, 34 teman sekelas. SMA kelas 2, 48 teman sekelas. Dan 51 teman sekelas pada kelas 3 SMA. Jangan tanya bagaimana saya ingat semuanya hehe.

Berada dalam 1 ruangan bersama 51 orang lainnya ditambah 1 orang guru itu bukan pengalaman yang menyenangkan jika harus dijalani dari senin hingga sabtu, mulai pukul setengah 7 pagi sampai jam 1 siang. Ditambah lagi kursi-kursi dan meja-meja yang kadang tidak beraturan, juga lemari kelas. Sumpek? Banget.

Permasalahannya sama seperti jalan raya di Indonesia yang kewalahan menampung jumlah kendaraan yang bertambah banyak tiap tahunnya. Tingkat pelebaran jalan sangat rendah, tingkat pertumbuhan jumlah kendaraan sangat tinggi. Kapasitas awal jalan sudah sangat tidak tidak relevan dengan kenyataan jumlah kendaraan yang lalu lalang diatasnya. Dan terjadilah kemacetan.

Bangunan awal kelas yang awalnya (mungkin hanya) dipersiapkan untuk 35 orang, dipaksakan harus dapat menampung jumlah yang lebih banyak pada tahun-tahun berikutnya. Harus saya katakan, hal tersebut membuat suasana belajar menjadi tidak kondusif. Jangan salahkan murid-murid jika ternyata mereka tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik :p

Apakah hal tersebut disebabkan jumlah siswa setiap tahun makin banyak seriring dengan tingkat pertumbuhan manusia Indonesia yang juga tinggi? Mungkin saja. Apakah hal tersebut dampak dari semakin berkurangnya jumlah sekolah di Indonesia karena banyak yang rubuh? Sepertinya tidak :p

Setiap koin punya 2 sisi. Ada hikmah yang bisa saya ambil dari semakin bertambahnya jumlah teman sekelas terlepas dari semakin ramainya suasana di dalam kelas. Saya bisa secara bertahap menyesuaikan diri bagaimana belajar dalam kelas yang besar. Sehingga saat kuliah, saya tidak kaget dengan banyaknya jumlah peserta kelas dalam 1 mata kuliah.

Normalnya, saat kuliah saya sekelas dengan 53 orang lainnya. Saat tingkat 1 malah dengan 79 orang lainnya. Coba bayangkan, saat tingkat 2 saya pernah sekelas dengan setengah angkatan, lebih tepatnya 103 orang. Haha.

Untungnya, kursi-kursi (dan meja-meja) dalam ruang kelas di universitas saya pada umumnya permanen. Jadi ruangan kelas memang sudah dikondisikan untuk menampung kelas yang besar, menengah, atau kecil. Tinggal bagaimana pihak administrasi kampus mengatur jumlah peserta kelas dan ruangan kelas mana yang dapat menampungnya.

Life is messy, that’s how we’re made. So we can waste our life whining it, or we can live our life dealing with it 🙂

Ironic and Cynical

1 Apr

I just heard something ironic this afternoon at class. My lecturer said:

There’s a joke. Someone said that our country is irrepairable. Let us just surrender to US and be its 52th state.”

HAHA! He told us afterward that the guy who told him the ironic joke was younger than him. My lecturer is pacticularly old enough to have grandchildren.

I kind of get what he wanted to tell us. That young Indonesians are losing their (including me..) spirits to build the country. How could someone just give up to another party when he/she actually has the ability to do something and change the current state.

When I heard about the joke, the only response that came into my mind was “Sir.. the problem is whether US wants to accept us as a part of them or not”. That was the cynical me talking.

be the 52th state? what’s the 51th anyway?

Later he told the class:

“Nowadays goverments around the world are in fire promoting the act of MDGs (Millenium Development Goals). But I think it will failed. There’re only five years left and the poverty index hasn’t decreased yet. In fact, the amount of the poors are increasing each day.”

How do we reply to such statement like this? Mine will be “yes Sir.. you sounded just cynical”. just like me.. and maybe the other half of the world.

sedikit intermezzo

7 Mar

Sedikit intermezzo.. malam ini saya iseng buka2 file lama. Iseng2 berhadiah.. saya menemukan file sosialisasi_kur2008.pdf di folder utama College saya. Karena ngerasa ga pernah baca.. iseng saya baca file itu. Dan ada 1 halaman yang isinya menarik perhatian saya:

Lupakan sejenak 3 poin pertama.. poin 4, 5, 6 saya gagal banget deh. Saya ga kompeten buat jadi sarjana TI dong?! Gimana saya bisa lulus..? 😐

(bukan) muka lulus juli

10 Feb

hari ini saya mendapatkan tuduhan pertanyaan tidak menyenangkan. tuduhan yang sama, 2 kali, oleh 2 orang yang berbeda.

orang 1, mantan pacar teman saya. bertemu secara tidak sengaja dibawah hujan, saat saya terburu2 akan ke kelas dan mantan pacar teman saya ini menuju arah jurusan. pembicaraan singkat karena memang tujuan kita tidak sama. dan dalam waktu yang singkat itu, tuduhan pertanyaan yang keluar dari benaknya adalah “ngejar lulus kapan nad? juli?”

saya cuma bisa nyengir dan menjawab “haha.. ga lah. gw bukan tipe lulus juli kok”.

orang 2, anggap saja teman saya. berbincang via instant messenger. setelah berbicara ngalor ngidul (walaupun tidak panjang seperti biasanya), tiba2 teman saya ini menulis “lo mau lulus juli kan nad..”. saya tertegun membaca message tersebut, bingung. saya hanya bisa menjawab, “eh..? sejak kapan gw pernah bilang pengen lulus juli sih?”.

dua kali dalam hari yang sama oleh orang yang berbeda, saya mendapat tuduhan yang sama, sudah bukan pertanyaan lagi. apakah saya terlihat ingin secepatnya lulus dari itb? well.. saya memang ingin lulus cepat dari itb.. tapi bukan juli. saya tidak sejenius itu.. saya bahkan tidak cukup pintar. apakah saya terlihat buru2 ingin meninggalkan dunia kampus? saya memang sudah bosan kuliah.. ingin merasakan dunia kerja. ingin punya duit sendiri, sudah bosan selalu minta2 pada orang tua. tapi apa berarti itu sama dengan lulus juli? apakah di otak saya terpampang cap LULUS JULI?

saya benar2 kaget.. padahal topik tugas akhir saja sampai sekarang saya belum jelas. dosen pembimbing belum punya. perusahaan objek tugas akhir belum ada. bagaimana bisa yang seperti itu lulus juli?

ya Tuhan.. berikanlah kemudahan kepada ku dan teman2 ku dalam menyelesaikan tugas akhir… hanya kepada-Mu aku menyembah, dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan

LIVEJOURNAL: At The End Of The Year

30 Dec

This semester is about to end. My 7th semester in college which also happens to be my 4th year to be exact. But if you could see in my wordpress, there is none of post consist of any whining, complaint, protest that related to my college life, the subjects, or even the lecturers. Not even the time tables. That must a great thing.. rite? Because either I’m grown up and not sweat things around me.. or worse. I don’t feel anything about those anymore.

Believe me.. the first version of it way much better than the second one. In fact.. the first version is the hardest thing to believe remembering how difficult this semester was. Considering the subjects themselves, the tasks, the deadlines, and of course the lecturers. I happened to chose the seemed-to-be-wrong subject. I hope I didn’t, but no one knew, rite? I barely attended the classes after mid-term exam because of the deadlines of the tasks. It means either I haven’t finished the task or I’ve finished it but I choose to sleep because I haven’t sleep along the night. It could be also any presentations that I have to performed, or any seminars that I’d like to attended.

Not to mention the hard times I had in my social lifes. Both in family and friend times. Seriously.. this reason not only could taught me alot to grow up.. or not even to care of whatever had happened. In my own words, I’d like to describe it as “a time to turn my back at the world”. Believe me.. it really dark as it sounds.

Which ever the real reason is.. I’m quite happy that I didn’t junk any of my blogs with some personal thingy that are too personal to be share, like the years before. Maybe I’m that real introverted person.

Have a wonderful year ahead!

-The INFP of Me