[review] Ketika Cinta Bertasbih + Inkheart

6 Jul
Sarah si Partner in Crime

Sarah si Partner in Crime

Selama kape di LGEIN saya mengalami kekeringan. Kekeringan jiwa karena tidak satupun hiburan bioskop yang saya dapat tonton (lebay). Padahal sudah 2 kali weekend saya habiskan di beberapa mall di jakarta. Karena itu ketika hari minggu kemarin saya mendapat kesempatan untuk menjabani bioskop walaupun hanya 21 (bukan xxi apalagi blitz), kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Saya menonton 2 film sekaligus, di 2 mall berbeda yang kebetulan berdekatan, bersama dengan sepupu saya, Sarah. Apalagi kegiatan menonton tersebut dibayari oleh tante saya, Teci, disaat beliau menghabiskan waktunya mempersiapkan pembukaan sebuah gerai pakaian di mall yang baru di buka di Jakarta Pusat. Indahnya dunia… hehe

Film pertama yang kami tonton adalah Ketika Cintah Bertasbih (KCB). Film ini terpilih untuk ditonton dari 4 film yang ingin saya tonton saat itu, King, Garuda di Dadaku, KCB, dan Transformer2. Namun ternyata saudara saya yang baru masuk SMA ini sudah menonton kedua film pertama, sehingga pilihan menonton hanya tinggal KCB, mengingat Transformer2 belum masuk ke bioskop 21.

Ketika Cinta Bertasbih

Film yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik) yang ikut memerankan sebuah tokoh dalam film ini. Saya tidak akan menceritakan kembali bagaimana isi novel ataupun film ini. Silahkan dibaca atau ditonton sendiri untuk mengetahui bagaimana ceritanya hehe.. Saya menyarankan hal tersebut karena film ini sesuai dengan ekspektasi saya (okelah mari kita puji.. ini film yang bagus). Bahkan kekecewaan besar yang saya dapatkan saya menonton film ‘Ayat-ayat Cinta’ karena melenceng jauh dari novelnya (click here to read more), tidak saya temukan pada film ini.

Jadi jika kamu tidak sempat menonton film ini dan ingin menontonnya, maka tunggulah sampai DVD Original-nya beredar di pasaran, mengingat film ini sudah tidak beredar lagi di bioskop. Jangan beli DVD bajakan pada film (atau karya lainnya) Indonesia yaa.. Hargai karya cipta anak bangsa. Kalau beli DVD bajakan film luar negeri (hollywood, dorama)… saya tidak ikut-ikutan melarang deh. Karena saya salah satu pelaku pembeli dvd bajakan film asing juga haha

Film kedua saya dan Sarah tonton tanpa rencana sama sekali. Bahkan kami tidak bermaksud untuk menonton film kedua kalinya. Tapi saat Teci menyodorkan duit “Ayo sana nonton lagi.. Belum selesai nih (dengan persiapannya)”, maka saya dan Sarah nyengir lebar menerima rezeki tak terduga tersebut. Saya dan Sarah pun berpindah ke mall sebelah karena bioskop 21 di mall tersebut tidak dapat menampung selera menonton kami (haha). Sebenarnya aneh juga mall-mall di jakarta. Jumlahnya terlalu banyak, bahkan sampai berdekatan jaraknya. Mall kedua yang kami datangi ini bahkan berhadap-hadapan dengan mall pertama. Tssk..

Pilihan kami jatuh ke Inkheart, karena ternyata mall kedua pun hanya memiliki bioskop 21, dan film-film lainnya di bioskop tersebut sama sekali bukan film yang menarik untuk ditonton. Percayalah.. bahkan untuk menulis judul filmnya saja di blog ini saya tidak rela haha. Film yang judulnya belum pernah kami dengar dan resensinya belum pernah kami baca inipun kami pilih setelah melihat posternya saat mengantri. Benar-benar sebuah pertaruhan.

Dan ternyata.. aktor utamanya Brendan Frasser. Woh.. bukan pilihan film yang salah menurut kami berdua setelah menonton Inkheart. Film ini mungkin bukan film box office, tapi bagi pecinta nonfiksi, Inkheart merupakan film yang cukup pantas untuk ditonton. Menonton film ini mengingatkan saya pada film Push (click here to read more). Mengenai orang-orang yang mempunyai kekuatan supranatural. Bedanya Push lebih kuat unsur actionnya, Inkheart lebih kuat unsur dramanya.

Satu hal yang saya sadari setelah menonton Inkheart adalah ternyata saya memang mencintai nonfiksi, baik buku ataupun filmnya. Alam-alam di dunia tidak nyata tersebut, walaupun hanya berupa imajinasi begitu menarik pikiran saya. Apakah itu karena saya seorang pemimpi?

I always dream big, that’s a fact

PS: to read my late movie review, click here

One Response to “[review] Ketika Cinta Bertasbih + Inkheart”

  1. Pasang Iklan Gratis September 27, 2009 at 7:06 am #

    Segala sesuatu pasti ada kelebihan dan kekurangannya, namun menurut hemat saya, film KCB ini yang sangat sarat nilai, paling tidak di tengah gempuran film-film bergenre horor dan lainnya. Film seperti ini, kalau menurut hemat saya, sangat bermanfaat dan bernilai bagi bangsa ini yang haus akan figur teladan khususnya dalam dunia perfilman.

    memang sudah selayaknya, sebuah film dapat membawa pesan moral yang dapat membawa penontonnya ke arah kehidupan yang lebih baik. Walaupun mungkin bagi sebagian orang, alur ceritanya terkesan monoton. Namun, apapun penilaiannya mudah-mudahan perfilman di Indonesia semakin maju.
    Pasang Iklan Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: