sepenggal kisah ibu dan anak

29 Aug

kegigihan saya dalam mencoba untuk mendonorkan darah lagi akhirnya terbayar. pertama kali mencoba saya berhasil mendonorkan darah tanpa hambatan. kedua, ketiga, dan keempat kalinya mencoba saya digagalkan pada kenyataan bahwa kadar haemagblobin dalam darah saya rendah (selalu di bawah batas yang diizinkan untuk mendonorkan darah, walaupun di atas batas sehat). tadi pagi, saat mengetahui ada donor darah di gedung labtek, saya mencoba lagi untuk mendonorkan darah saya. dan… berhasil “Yeiiyy!”. akhirnya saya bisa mendonorkan darah saya (benar-benar donor darah. bukan cuma sampai tahap cek darah) untuk yang kedua kalinya. hehe

teman-teman yang mengetahui perjuangan saya dalam mendonorkan darah ikut gembira saat saya memberikan kabar bahagia ini pada mereka. bagaimana tidak. setelah 3 kali ditolak dengan nilai Hb yang tragis (mendekati 12.5 tapi tidak pernah sama dengan 12.5) akhirnya saya diluluskan dengan nilai Hb = 13.1 (batas sehat adalah Hb = 12 dan batas diizinkan mendonorkan darah adalah Hb >= 12.5). berarti saya benar-benar sehat tadi pagi. asupan gizi cukup. makan teratur. istirahat cukup. olahraga cukup (itu definisi sehat menurut ibu saya, bukan menurut dokter. hehe)

tapi coba bayangkan apa kata ibu saya saat diberitahu kabar bahagia ini. beliau malah menimpali dengan berkata cuma segitu? aku dulu waktu masih kulia Hb ny 14 loo na.. ngalahin cowok-cowok farmasi. hahaha [baca: tertawa nostalgia mengingat masa muda saat kuliah]”. karena ngotot seneng, saya ngeyel membalas perkataan beliau “yee..segini aja udah bagus ma. temen-temenku yang cewek tuh pada 12.6 Hb-nya. lagian kan aku sempat rendah ma Hb-nya…”. lalu ibu saya menukas makanya rajin olahraga. dulu aku tuh jogging tiap hari ke sabuga sebelum kuliah..

dweeennnggg…

ibu saya seperti tidak tahu saja keadaan anaknya sekarang. semester ini saya kebagian kuliah mulai pukul 7 pagi 4 kali dalam seminggu (kuliah cuma 5 hari seminggu. berarti cuma 1 hari yang saya tidak kuliah mulai pukul 7 pagi). dulu ibu saya saat kuliah di itb ngekos di cisitu. berarti ke sabuga tinggal ngesot [baca: sangat dekat. tinggal jalan. tidak perlu ongkos]. lah saya? rumah di gerlong. ke sabuga *dan itb* mesti 2 kali naik angkot. ongkos mahal. belum lagi jarak jauh berarti menghabiskan banyak waktu di perjalanan.

saya : mama mama.. tidak feasible ateuh kalau aku mesti tiap hari jogging ke sabuga

*seandainya saya bilang seperti itu ke ibu saya pasti beliau membalas makanya itu sim di urusin dong.. kapan kelarnya sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: