take a look at ourself

26 May

saat makan malam ibu saya menonton acara televisi (tv) yang disiarkan salah satu channel tv. tontonan malam itu mengenai perdebatan antara si bapakpengusaha, si bapakpusatkajian, dan si bapakekonom. perbincangan yang menarik. mengingat betapa berapi-apiny si bapakpusatkajian. betapa kalemnya si bapakpengusaha. dan betapa dinginnya si bapakekonom. bahkan saya, ibu, dan ayah pun ikut berdiskusi menimpali perbincangan di tv tersebut. apalagi saat menonton acara perdebatan tersebut, ibu saya sambil memindah-mindahkan channel tv. lalu salah satu channel tv yang lain menampilkan salah satu universitas di jakarta yang berdemo hingga malam hari ini memprotes kebijakan naiknya bbm. dan salah lain universitas di jakarta yang bentrok dengan aparat karena di dalam universitasnya ditemukan bom, minuman keras, dan (katanya) narkoba.

ibu saya kemudian mempertanyakan sikap mahasiswa di almamaternya yang saat ini kebetulan menjadi institut tempat saya menuntut ilmu, mahasiswa tiittiittiit gimana na? ga demo?“.
pertanyaan yang saya jawab dengan tenang, “‘hmm..baru sebatas diskusi sih. tapi udah ada inisiasi bakal demo dari ketua keluarga mahasiswanya dan ketua himpunan mahasiswa..bakal demo sih mungkin..“.
lalu di balas ayah saya dengan terkekeh,ah telat…harga minyak udah keburu naik lagi“.
dan dtimpali ibu saya, lama ya aksinya. kalau dulu jaman ibu, mahasiswa tiittiittiit itu penggerak. paling duluan bereaksi..sekarang udah melempem nih”.
yang saya jawab sambil nyengir udah kebanyakan anak saringanmandiri sih”.
ayah saya berkata mungkin bukan gitu mah..mahasiswa tiittiittiit pada kapok mungkin. pada takut..dulu kan udah pernah demo dan udah tau bakal seperti apa reaksi dari aparat”.

mengingat ketidaktahuan ayah saya mengenai keadaan almamater istrinya yang menjadi institut tempat anak pertama dan keduanya menuntut ilmu, saya menjawab dengan nada memaklumiga gitu juga sih pah. tapi kan mahasiswa tiittiittiit sekarang kan mayoritasnya dari kalangan menengah. yah berada lah..kalau dulu kan dari rakyat-rakyat kecil. jadi wajar kalau pemikiran mereka emang untuk rakyat. sangat memikirkan rakyat..sekarang kan itu jadi minoritas. jadi yaa ga begitu banyak yang mikirin keadaan indonesia. tujuan berpikirnya udah beda. ga kepikiran aja buat mikirin hal begituan…“. jawaban yang membuat ayah saya terdiam dan menghasilkan cengiran dari ibu saya yang seolah berkata udah mamah duga…“.


**ah mamah..memang mamah pernah ngijinin kalau saya bakal demo turun ke jalan? bukankah itu juga salah satu faktor? bahwa semakin banyak orangtua, ayahibu mahasiswa tiittiittiit yang melarang anak-anaknya untuk berdemo?
🙂

4 Responses to “take a look at ourself”

  1. ira June 17, 2008 at 2:41 pm #

    ihh nadia jorok..
    hehe

    haha, bener banget nad. sekarang tuh jamannya udah beda.
    tuntutan orang2 jg udah beda..
    “gmana sempet ngurusin orang lain, kalo diri sendiri aja belom keurus.. ”
    kayaknya sekarang semua orang mikir gini deh.. salah ga?

    • ladysherry May 20, 2009 at 11:37 pm #

      jorok??hahhahhhaha…tiittiittiit ny yaa?
      maksud ny d cencored iraa
      hehhhee

      yiahh bgtulahh.klw kt nyokap gw ‘kapitalis’

  2. ira June 17, 2008 at 3:11 pm #

    gw ga bilang itu yg jorok lohh nad.. lo yang bilang ya..
    :p

    • ladysherry May 20, 2009 at 11:45 pm #

      hahahaha :))
      sialan lw ra.. jebak banget deh😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: