Archive | big family RSS feed for this section

Easy Exercise At Home: Playing Hula Hoop

17 Aug

Kebingungan judul apa yang cocok dengan postingan ini, akhirnya saya memilih memberikan judul postingan ini dalam bahasa inggris. Judul boleh saja memakai bahasa inggris, tapi isi postingan ini saya tulis dalam bahasa Indonesia kok. Jadi ingat kebiasaan saya saat awal menulis di blog, judul dalam bahasa inggris tapi isinya dalam bahasa Indonesia hehe. Menipu banget tuh :D

Berbahagialah kamu jika kamu termasuk golongan orang yang (masih) rajin berolahraga, tidak terhambat oleh waktu dan atau, yang paling penting, rasa malas. Karena itu yang sekarang saya hadapi setiap akan berolahraga di luar rumah, seperti yang dulu saya lakukan. Jadi jangan heran kalau sebulan yang lalu hb (haemoglobin) saya hanya 10.4 saat cek darah. Gila, itu rendah banget!

Sebagai alternatif olahraga yang biasa dilakukan, kita dapat melakukannya di dalam rumah. Pilihan olahraga yang dapat kita lakukan adalah treadmill dan teman-temannya, jika kamu mempunyai alat-alatnya di rumah. Atau simple sit-up push-up. Dapat juga bermain hulahup Yang terakhir saya sebutkan ini merupakan mainan baru saya dalam beberapa minggu terakhir hehe.

bahkan Hulahop dapat dimainkan di kantor bersama kolega

Ya. Ternyata hulahup yang selama ini saya ketahui sebagai permainan anak kecil di luar sana dapat juga kita mainkan (baca: lakukan) sebagai body exercise. Olahraga ringan yang dapat dilakukan dimanapun, termasuk di dalam kamar tidur. Bahkan pada kotak pembungkus hulahup (apa yaa bahasa Indonesia yang cocok, packaging?) yang saya miliki, tertulis sports fun, seperti foto di bawah ini.

Bermain hulahup memang tidak segampang memutarkan tubuh kita. Tapi menurut teman saya, mail, belajar memainkan hulahup dapat dilakukan dalam 1-2 hari. Saya coba, dan terbukti Saya dapat belajar bagaimana menjaga agar hulahup tidak jatuh hanya dalam beberapa kali putar dalam 1 hari saja. Sekarang saya tinggal melatih kemahiran dalam bermain hulahup. Yeiy!

Oh. Sepupu saya yang masih kelas 3 SD bisa memainkan hulahup dengan menggunakan LEHER dan PAHA nya. Gila! Nanti anak perempuan saya (kalau punya :p) harus bisa memainkan hulahup juga dari kecil ;)

Olahraga apa yang lebih kamu pilih? Sit-up push-up di dalam kamar? Treadmill? Jogging dan atau olahraga di bawah matahari lainnya? Atau bermain hulahup seperti saya?

Dilema Seorang Ibu

10 Aug

Apakah saat ini kamu tinggal bersama orang tua? Ataukah saat ini kamu tinggal sendiri? Atau mungkin kamu sudah berkeluarga, tinggal bersama pasangan, dan tidak menumpang di Pondok Indah Mertua?

Taukah kamu bahwa ternyata tidak hanya seorang anak yg mengalami homesick saat jauh dari orangtua. Tetapi juga orangtua yang ditinggalkan si anak, juga mungkin terkena homesick. Walaupun yang berada di rumah adalah sang orangtua, seperti ibu saya.

Seminggu yang lalu saat adik-adik saya masih di rumah, ibu pernah berkata “Aduh anakku bakal tinggal di jakarta nih.. Pindah rumah ke Bogor aja apa ya?”, yang langsung dibalas dengan:
adik cowok (Ekal): “ga perlulah ma..”
adik cewek (Muti): “ih apa sih ma..”
saya: (hanya menunjukkan ketidaksukaan dengan tatapan… yang mematikan)
oleh anak-anaknya.

Setelah kepindahan adik-adik ke asrama UI, ibu saya sepanjang perjalanan Depok-Bandung tidak henti-hentinya menangis. Ayah saya sampai bingung bagaimana menghadapi ibu. Beliau hanya berkata, “Ayo ma yang kuat.. Ekal aja tadi ga nangis kok” pada awalnya, lalu kemudian membiarkan ibu saya menangis. Keesokan harinya ibu saya lebih banyak diam dan selalu tidur di kamar adik-adik saya, bergantian setiap malam. Terbukti kan bahwa seorang ibu pun bisa homesick ditinggal anaknya.

Disitulah timbul dilema. Di satu sisi ibu saya harus melepas anak-anaknya menimba ilmu di kota lain. Di sisi lain ibu saya belum siap melepas kedua anaknya yang lebih muda, terutama si bungsu Ekal. Seperti yang saya ceritakan disini, adik laki-laki saya itu memang kesayangan ibu.

Menurut saya wajar kalau ibu saya bersikap seperti itu. Karena seperti pengakuan yang pernah ibu lontarkan pada saya saat adik-adik masih di Bandung, “Mama pikir kamu yang pertama bakal keluar dari rumah. Kalau kamu sih mama udah siap ngelepasinnya. Lah ini, malah Ekal ama Muti“. Saat itu ibu saya masih bisa tertawa saat mengatakannya.

Sebenarnya itu sebuah kekecewaan karena Muti memilih pindah, mengulang kembali dari awal di UI. Juga sebuah kesedihan karena Ekal tidak keterima di ITB malah nyasar di UI. Padahal sejak kecil, ibu selalu meng-insepsi-kan anak-anaknya untuk kuliah di almamaternya itu.

Oh. Sebenarnya itu juga sebuah sentilan karena sampai sekarang saya tidak kunjung lulus :p

p.s.: Sampai dengan tulisan ini dibuat, untungnya Ibu saya sudah baik-baik saja dan bisa dengan ikhlas menerima keadaan. Hari-hari di rumah sudah kembali berjalan seperti biasa kembali, minus adik-adik saya tentunya maksudnya.

p.p.s.: Mohon maaf lahir bathin ya teman2 :) Mohon maaf kalau2 saya ada salah berbicara, salah sebut, salah berprasangka. Dan bagi kamu yang menjalankan puasa, semoga ibadah puasa kita diterima oleh-Nya aamin. Met mencari rahmat dibulan penuh berkah!

Somebody’s Somebody

5 Aug

For you who is following my twitter account and or be my friends on facebook, might have read me wrote this phrase in these accounts “everybody always be somebody’s somebody“. You might see it as redundancy, but I don’t. Because I added some phrases before that quote on twitter, and I put that certain quote as a photo caption on facebook. This photo below.

I write the same quote again, here on wordpress, to give you more details, why did I write that quote in the first place. Because that’s what we do in blog, right? To enlighten readers about things that we can’t write on limited spaces like in twitter.

That photo was taken sometime in 1991 , at Cipto Mangun Kusumo Hospital, Jakarta. You couldn’t see it on the picture, but it was my grandma’s room in the hospital. She was a terminal cancer patient and we were visiting her. Looking at that photo is making me sad, not only because it will certainly makes me miss my lovely grandma alot, but also reminds me of my aunt’s former husband.

Yes, you read it correctly. Former. Husband. My aunt divorced at about 8 years ago. One of their kid is my cousin that I told to you at here.

I didn’t realize it at the first time. But there was him, former husband of my aunt, at that photo, almost 20 years ago, when my grandma was still alive. Oh I really couldn’t understand it. He’d known my big family for so long, yet he betrayed my aunt. But I’m not gonna talk about the betrayal right now.

The third thing that disturbing my mind is another reminder that this former husband of my aunt was (oh I don’t know if he still is) a friend of my uncle’s wife. Yeah! The wife of my uncle is the one who introduced the former husband to my aunt. Can you see how complicated it was when the divorce took place?

Even if there’s no longer connection between the former husband and my aunt, but he is still the father of my aunt’s kids. He was (or is) also a friend of my aunt’s sister-in-law. He is somebody to somebody out there.

And who says we’re alone in this world? We’re social creatures that are connected to anyone else. Everybody always be somebody’s somebody. So we must be really careful on what we do, if we don’t want to ruin anybody else’s life, let alone ours.

Shoot. I’m still learning alot.

Surat Izin Mengemudi[2]: A atau C?

27 Jul

Kalau kamu membaca cerita bagaimana naasnya saya dengan SIM A (kalau belum baca, silahkan baca disini), mungkin kamu akan berpikir, “Kenapa tidak buat SIM C saja, hitung-hitung belajar mengenal jalan raya dulu?”. Oh percaya deh, menurut saya mengendarai kendaraan roda dua itu sangat tidak aman. Saya lebih memilih jalan kaki dan atau naik angkot daripada harus naik motor. Kecuali kalau memang sangat ngat ngat terpaksa.

Dulu saat SMP, saya pernah iseng minta diajari tante saya mengendarai motor. Saya sebut iseng karena saya benar-benar tidak pernah kepikiran sekalipun untuk mengendarai motor, walaupun saya bisa naik sepeda *errr oke ga nyambung*. Ide iseng itu tercetus saat saya liburan ke rumah tante dan saya melihat beliau bolak balik naik motor di Jakarta. Iseng minta diajari, gayung bersambut, tante saya bersedia mengajari.

Setiap akan melakukan kegiatan apapun yang mengandung bahaya, mungkin memang ada baiknya kita harus selalu minta izin orangtua. Yang saya tidak lakukan saat itu. Saya belajar motor tanpa seizin orangtua, karena saya tau tidak akan diizinkan oleh ayah mengingat usia saya yang sangat tidak mencukupi saat itu. Nekat belajar motor, tanpa izin orangtua, tanpa pakai helm juga, kesannya benar-benar oke saat itu, tapi sangat bodoh kalau diingat-ingat lagi sekarang haha.

Pada awalnya baik-baik saja. Saya bisa menyerap dengan baik ajaran adik dari ibu saya itu. Kopling kaki kiri, ganti gigi tangan kanan putar ke depan, tambah gas tangan kanan putar ke belakang. Setiap pojokan di lapangan dekat rumah tante saya sukses saya jelajahi. Tante yang awalnya berada di boncengan akhirnya turun mengawasi dari jauh, mengizinkan saya membawa motornya sendirian, asalkan masih di area lapangan. Pelajaran itu hanya terjadi dalam kurang lebih 1-2 jam.

Musibah datang saat akan turun hujan. Tante berteriak memanggil saya dari jauh, mengajak menyudahi pelajaran mengendarai motor untuk hari itu. Kaget, seharusnya putar tangan kanan ke depan untuk menurunkan gigi, saya malah putar tangan kanan ke belakang. Motor melaju sangat kencang, tidak bisa saya kendalikan, sukses menabrak pagar terdekat. Motor salto ke belakang, saya sudah menjatuhkan diri jauh sebelum si motor salto. Untung si motor mendaratnya tidak menimpa saya.

Kepala sangat pusing karena membentur tanah, saya ingat yang saya pikirkan saat itu adalah, “nyampe rumah tante harus langsung minum susu“. Sangat tidak sesuai dengan keadaan saya saat itu dan bodoh sekali sempat-sempatnya memikirkan segelas susu. Padahal seharusnya yang saya pikirkan apakah saya geger otak atau tidak. Tante panik, berlari mendekati saya, diikuti oleh orang sekitar. Orang-orang membantu mendirikan motor, tante memeriksa keadaan saya. Saat itu, yang ada di pikiran tante “mampus gw dibantai kakak, anaknya celaka begini”. Oh, ibu saya memang galak, haha.

Motor penyok bagian depan, gores-gores di semua tempat, saya mesti dipapah pulang. Setelah diingat-ingat, benturan kepala saya ke tanah tidak begitu keras karena saya sempat menahan badan dengan kedua tangan saya. Alhasil tangan saya keseleo parah. Sesampainya di rumah tante saya minum susu, terwujud juga haha. Kemudian mengabari ibu, saya dan tante diomeli, kami berdua hanya nyengir kuda. Mengabari ayah, beliau hanya bilang ke tante saya untuk membawa si motor ke bengkel dan mengirimkan billnya ke ayah. Tante saya aman sejahtera sentosa, saya sejak itu mengerti dengan benar bahwa motor bukan kendaraan yang aman untuk dinaiki.

Saya trauma? Mungkin saja. Tapi, saat menyetir mobil, saya pernah menabrak bagian belakang sebuah mobil dan menyerempet sebuah motor sampai kedua penumpangnya jatuh di hari yang bersamaan, dan saya tidak trauma mengendarai mobil. Saya malah bilang ke ibu, “nabrak mobil udah, nabrak motor udah, tinggal ditilang nih ma yang belum“. BECANDA, bisa gila. Intinya, saya tidak kapok mengendarai mobil sejak kejadian tabrakan itu, tapi saya sangat kapok mengendarai motor sejak kejadian menabrak pagar. Konklusinya? Motor sangat tidak aman *haha keukeuh* *ga nyambung*.

Kalau dibonceng naik motor, saya hanya kalau keadaan sangat amat benar-benar terpaksa, dan pasti saya komat-kamit tidak henti-hentinya berdoa sampai tujuan. Saya juga selalu was-was kalau ayah atau adik-adik saya berpergian dengan motor. Oh, kedua adik saya punya SIM C. Saya tidak punya SIM apapun. Nasib oh nasib.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers