Archive | family RSS feed for this section

Happy Birthday, Mom!

29 Oct

My big family always tell me how identical my face is with Mom’s young face. When I was a kid, they say I looked the same with the face of Mom when she was a baby girl. From 1 to 10, the identicalness of me and the younger image of Mom is 9. By the time I grew up, we’re no longer that identic, but still, our  look alikeness always surprise my big family.

In fact, I am the only kid on my family who ever had a bright skin, like Mom has. Only by the time flew by, my skin is getting darker just like Dad. I have no one to blame but the whether of my childhood area. Cousin of my late GrandPa said when I met him again after several years,
GrandPa’s Cousin (GC): Eh..? You’re the white cute little girl who visited me years ago? What happened to your white skin?
Big Family: (laughing)
Me: (blushing)
GPC: Perhaps because you lived in a dry sunny place, surrounded by palm trees, and lived above the oil..?

I guessed so.

Back to Mom. Just like my Dad, she also didn’t come from a wealthy family. But she was lucky to had GrandPa and GrandMa who concerned about education much. They did everything they could to provide their kids with good education no matter how hard the family financial situation was. Though GrandMa was a teacher, it was GrandPa who accompanied Mom and her siblings through their studies alot. Let me tell you this in another story.

Grown up in a family like this, Mom concerns alot about me and my siblings’ studies more than Dad does. She likes to take us to the bookstore and spend time there than to the shopping center. She also encourages us to buy more books and read them than to spend the money on food, for example. She chooses the send me and siblings to the courses than to buy jewelries on it.

She always put her kids’ education, as well as our other needs, as top priorities and put aside her own needs, because she loves us that much. I really adore her for this one. For her, her main responsibility as wife and mother is to educate her children, while father is the one (though not the only one) who should support family’s financial. Therefore when my sister moved from ITB to UI, or when brother was only able to attend UI not ITB (click here to read more), she blamed and took hard on herself alot.

Did you know there are actually only 3 responsibilities as parents?

They are to raise the kids well, to educate the kids well, and to make sure the kids find their best partners of life. Mom agrees of this kind of belief. There was this sudden moment in the middle of my discussion with Mom,
Mom: It’s okay to pend to have our own house after Ekal‘s graduation, right?
Me: 4 years from now? Yea… okay, fine for me. As long as it’s okay for you to live in that rent house.
Mom: No problem.
(silent)
Mom: For me, the most important thing right now is you and siblings could finish your colleges. The rest can wait.
Me: (in mind: oh shoot, she’s going to point to my unclear graduation day)
Mom: After your brother’s graduation, my responsibility is over. Perhaps I could just die. I’m fine if God takes my breath the moment after that. I know your Dad could handle the rest.
Me: (i was going to say jokingly: but maybe I haven’t married yet that day, but damn, she was serious and in a deep tears)
Me: Careful with what you’re saying, okay Mom.

In some stages, me and Mom also share the same characteristics. That’s why we always need Dad to calm us when we argue obstinately at the same time. In fact, she’s the one who has arguments with me alot. Probably because, no matter how much I love and adore her, in some points I don’t want to be like her, or to become her, not even to follow her track. She supports me through the latest, actually. She hopes me to be far more better than her, the hope that I also have towards my sister.

For all the things she did and she didn’t do to me, I do love her alot. I love you Mom, more than I ever showed you. I really hope I can make you proud of me in your life time. Because I do proud to be your daughter.

Happy birthday, Mom! Love you more than anything in the world.

Beloved, your proud daughter.

Beauty beholds on those who see :)

to read about my sister’s birthday-related post, click here

Happy Birthday, Sister!

22 Oct

Dear you,
Mutia Afifah Riza

My sister,
I know our family doesn’t celebrate birthday as it supposed to be
But this is the first birthday you’re apart from mom and dad
I genuinely hope you have a blast day!

My dearest sister,
You’re no longer a baby girl
Instead I think you’re the most mature person in the family
I envy you for the strength you’ve shown all this time

My loveliest sister,
You’re twenty today
But I think it’s just a number
I know you have a bright future ahead waiting for you to overcome it

The best sister in the whole world,
I love you for who you are and for the person you choose to be
I wish you all the joy and happiness in the world
I wish you be blessed of all luck and success

Happy birthday my one and only sister!
I know mom and dad proud to have a daugher like you
Because I do, to have a sister like you :)

smooch :*

to read about my dad’s birthday-related post, click here

[recipe] Kue Lebaran Andalan

6 Sep

Menjelang lebaran kesibukan di rumah bertambah satu, khususnya bagi ibu saya. Yaitu, membuat kue lebaran.. yeiy! Selain lebaran itu sendiri, membuat kue lebaran merupakan kegiatan yang saya tunggu-tunggu selama bulan bulan puasa. Untungnya seminggu kemarin saya tidak berpuasa dan bisa menjadi cookie-tester di rumah. Percaya deh, kue buatan ibu saya paling enak sedunia :)

Selama bertahun-tahun, ibu saya tidak pernah absen membuat kue lebaran yang satu ini. Bisa dibilang, ini kue lebaran andalan ibu saya. Baru saya sadari ternyata saya tidak pernah tau nama sebenarnya kue tersebut, sampai dengan saat saya akan menulis postingan ini dengan mencontek buku resep milik ibu saya. Selama ini saya hanya menyebut kue tersebut dengan ‘kue cokelat lebaran resep nenek’ haha. Ternyata kue tersebut bernama Orleon Taler.

Ya. Secarik kertas diatas merupakan resep kue yang sudah turun temurun dari nenek saya. Nenek saya (cerita mengenai beliau silahkan klik disini) sangat pandai memasak, baik makanan maupun kue. Namun ibu saya hanya diturunkan kemampuan membuat kue dari beliau, sedangkan ibunya sepepu saya, Sarah, diturunkan kemampuan membuat makanan. Adil? Well, I can’t answer on that one.

Niat mulia untuk membantu ibu saya di dapur biasanya selalu gagal. Kalau ingin membantu ibu memasak di dapur, kemungkinan terbaik saya hanya akan disuruh memotong atau mengaduk. Begitu juga dengan keinginan saya membantu ibu membuat kue kemarin:
Saya(s): (baru bangun, mendapati ibu sedang membuat kue) Ma.. bikin kue apa?
Mama(m): Kue cokelat yang biasa
S: Kue nenek itu? Namanya apa sih ma?
M: …
M: Kue cokelat kacang..? (menjawab sambil nyengir) *percaya deh.. ibu saya lupa namanya apa :p*
S:
S: Yaa masaa..
M: Liat aja buku resepnya, itu sih cuma soal nama.. Intinya kuenya ada cokelat dan kacangnya kan..
S: Ya oke.. ntar aku liat deh
S: Mau aku bantu apa ma?
M: Udah mau selesei kok ini.. Kamu jemur pakaian pakaian aja Na..
S: …
S: Maksudnya bikin kuenya ma.. mau dibantuin apa?
M: Iya, ini tinggal nyetak-nyetak aja kok.. Kamu bantuin jemur pakaian aja gih, udah siang nih
S: …

Nasib banget deh saya tidak boleh menyentuh dapur.

==================================================================================

ORLEON TALER (dimodifikasi dari resep aslinya)

Bahan:
250 gram mentega Weisman
175 gram gula halus
150 gram gram almond halus
175 gram tepung terigu (segitiga)
150 gram tepung maizena
20 gram cokelat bubuk (cocoa)
1 butir kuning telur
2 sendok makan susu bubuk
1 sendok teh vanili
garam halus secukupnya

Cara:
1. mentega dan gula diaduk menjadi satu
2. masukkan tepung terigu, tepung maizena, garam halus, dan almond halus. aduk adonan sampai rata
3. masukkan cokelat bubuk ke dalam adonan
4. setelah adonan jadi, buat bulat-bulat kecil dari adonan. gepengkan bulatan, oleskan kuningkan telur di bagian atas
5. masukkan seluruh cetakan yang sudah jadi kedalam freezer selama setengah jam
6. setelah itu panggang cetakan dalam oven

Percaya ga kalau saya dan adik-adik saya bisa menghabiskan kue setoples seperti diatas dalam *kalau istilah ibu saya* sekali duduk..? :D

Untuk membaca cerita saya pada Ramadhan tahun lalu, klik disini

Sepatu Buluk Kesayangan

24 Aug

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Kuis Sepatu Buluk Berhadiah Sepatu Baru yang diadakan oleh Mas Arman disponspori oleh Wondershoe dan Robinet (kalau mau ikutan silahkan klik disini).

Apakah kamu punya sepatu buluk kesayangan? Atau, pernahkah kamu punya?

Sampai saat ini saya masih menggunakan sepatu Converse All Star kesayangan, yang kalau saya mau membuka mata lebar-lebar ternyata sudah termasuk kategori buluk. Saking buluknya, ibu membelikan saya sepatu baru (dengan inisiatifnya sendiri tanpa saya tanya), meminta saya untuk tidak lagi memakai sepatu keds kesayangan itu, dan menggunakan sepatu baru yang beliau belikan (pernah saya post di twitter saya, untuk membaca silahkan klik disini).

Saat saya, dibeberapa kesempatan, masih tetap menggunakan sepatu kesayangan, ibu saya bahkan berkata, “Jangan dipake lagi dong Na, sepatu kamu udah jelek banget. Masa ntar orang bilangnya, ‘Ini anak kasian banget yaa ga diperhatiin ama orangtuanya, sepatu udah jelek bagitu masih dipake’”. Haha. Ibu saya memang ratu tega kalau milih kata-kata.

Buat kamu yang senang gonta-ganti sepatu, mungkin sama bingungnya dengan ibu saya, kenapa saya masih menggunakan sepatu keds saya itu padahal sudah ada sepatu yang lebih baru. Jawabannya adalah selain karena sepatu buluk itu masih sangat nyaman kalau digunakan, juga karena sepatu tersebut ada nilai historisnya.

Ya, sudah 2 tahun sepatu tersebut menemani saya ke kampus (di Bandung) bahkan sampai ke Bekasi. Setahun yang lalu, si sepatu kesayangan menemani saya setiap hari dengan setia saat saya Kerja Praktek di sebuah perusahaan elektronik di Bekasi. Harap maklum, saya ditempatkan di pabriknya yang notabene sangat aneh sekali kalau saya menggunakan flatshoes disana. Bahkan pekerja-pekerja disana menggunakan sandal jepit kok kalau ke pabrik hehe (untuk membaca ceritanya, klik disini).

2 tahun yang lalu, saya memang membeli si sepatu kesayangan untuk kepentingan kuliah. Tidak ada yang menyangka bahwa sepatu yang saya pilih sendiri tersebut bertahan sampai dengan sekarang, walaupun sudah diajak naik turun tangga dari lantai 3 gedung GKU Barat sampai lantai 3 gedung GKU Timur kampus ITB (jarak antar gedung sekitar 100 m) setiap hari. Diajak main tenis, voli, bahkan futsal kalau saya lagi malas bawa sepatu olahraga ganti.

Jika tidak diperhatikan dengan baik, sepatu ini bahkan terlihat masih bagus, mengingat modelnya memang yang tambal sulam. Tapi kalau kamu lihat bagian bawahnya, jezz.. bolong di bagian ujung belakangnya. Paling apes kalau lagi musim hujan. Saya sudah capek-capek bawa payung agar badan tidak kebasahan, eh ternyata kaki saya yang kebasahan karena air merembes masuk dari bagian bawah sepatu. Dan saya masih tetap setia memakai si sepatu buluk, di musim hujan sekalipun. Haha.

Pernah dengar “Semakin buluk sepatu Converse, semakin keren”? Ya, saya percaya pada mitos yang belum jelas keabsahannya itu hehe. Tapi tidak tahu kenapa mitos tersebut tidak berlaku pada sepatu merk lain ya? Dan sekarang saya sudah harus siap-siap berpisah dengan sepatu buluk kesayangan saya itu. Selain karena saya sudah jarang ke kampus, sudah saatnya saya lebih sering memakai flatshoes untuk persiapan memasuki dunia kerja yang sudah menanti saya didepan sana *halah*. Doakan saja :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers