Archive | travel RSS feed for this section

What Do You Choose to Pay For?

12 Nov

What choice do we have if we live far away from our daily main activity; school, college, or work? Can we instantly move our house to the nearest area?

If we’re still young and single, rent a room in some house or live in a dorm could be an option. But how would it be for us if we are too young to live by ourself, financially incapable to rent a room, or already have a house to live with our own family? Railing the road every morning and when get back home is the only most possible way.

We all know how massive crowd in big city, especially Jakarta, could be regarding to transportation. Bless you who already own your car. I really hope the use of your car is optimal by carrying 4 or 5 passengers per travel, so the car’s contribution to the air pollution could be minimized.

It’s an important matter, indeed. A senior of my friend choose to buy house in rural area and travel to office also back home by train instead of rent a room near office but travel to office and get back by car. Environmentally and financially smart one, I think.

Bless you who own motorbike. Traveling by motorbike is far more exhausting than traveling by car in the same travel distance, let alone by public transportation, if I may say. There’s no back support while traveling by it, plus we always have to keep our balance, and don’t forget the lack safety of it. For whatever stereotype people have in mind for motorbike riders, I wish you who travel by it always safely arrive at destination.

Source: flickr

And what’s left for people who don’t have their own vehicle? Public transportation, it is. When I lived in Riau, the only public transportation I know was taxi. When I moved to Bandung, the knowledge of it became wider into angkot and ojeg. Now that I currently breathing the air of capital city, I’ve tried all kind of public road transportation that I can think of. Taxi, angkot, omprengan, ojeg, metromini, kopaja, damri, economic train, commuter train, you name it.

There’s always a bargain value when we choose something over others. When we choose to reach our destination by public transportation, what value drives us the most? Cost, travel time, travel distance, travel schedule, comfortness, pride, prestige, or others?

I still live in my aunt’s house in East Jakarta while my office is in Central Jakarta. I used to go and back home by metromini, spent 4 hours in total per day on the road. Went out from house when the rooster is still asleep. Arrived at home when the owl is about to wake up. Tired, sleepless, no days without these.

But thank goodness there are many public transportation options we could have when we live in big city like Jakarta. These days, I go to office by commuter train and back home by angkot. I can have 2 more hours a day on the bed. The new option surely cost me more than the old one, but worth every penny of it.

I choose to pay for less travel time and more comfortness. What about you?

First Time Experience

24 Jun

Have you ever
…played billiard?
…took an air-conditioned economic bus to another city?
…slept at a train station?
…took a walk on a traditional market at night?
…took a public transportation with a living animal, such as rooster, inside?
…sat on the floor in a public transportation?
…slipped on a coral and cut your feet open?
…asked your parents to borrow their car though you can’t drive?
…accompanied someone to the bus station though you didn’t have the intention to go out of house?
…washed and ironed someone’s clothes who isn’t your family member?
…heartily cooked for someone you really care for?

With him, I had. For him, I did.

Source: Flickr

P.S.: Dear you, thanks for all the life experiences you gave, taught, and accompanied me. Hope I could make them up to you someday. Still love you all the way, until now.

[review] Book: The Naked Traveler 1 & 2

11 Oct

Berhubung banyaknya permintaan pada postingan ini, maka saya pun memberanikan diri mereview buku The Naked Traveler (TNT) 1 & 2 karya Trinity yang sudah saya baca. Bagi yang menunggu review buku 1 lagi, saya ucapkan terimakasih atas kesabarannya *minta ditimpuk :p*.

Harap diingat bahwa saya membaca buku TNT1&2 out of the blue. Tiba-tiba iseng jalan ke toko buku, tiba-tiba iseng membeli buku, tiba-tiba iseng meraih bukunya mbak Trinity, dan tiba-tiba iseng langsung membeli kedua bukunya sekaligus. Saya yang pecinta komik ini memang suka geregetan kalau komik itu terbitnya satu-satu, jadi wajar saja kalau saya langsung membeli buku mbak Trinity 2 buah. Sudah percaya bakal bagus, sudah percaya bakal suka. Padahal saya sama sekali tidak mengikuti blog ataupun twitter beliau. Hihi.

The Naked Traveler 1 menceritakan pengalaman bertahun-tahun traveling mbak Trinity ke tempat-tempat wisata yang pernah dijelajahinya. Pengalaman tersebut diceritakan dalam setiap bab, yang termasuk dalam beberapa subjudul. Seperti pengalaman traveling yang berhubungan dengan passport, airport, dan alat transportasi. Jadi tidak melulu menceritakan mengenai objek-objek wisata itu sendiri. Membahas traveling dari sudut pandang lain, mungkin lebih tepat disebut sharing pengalaman. Pastinya bakal berbeda kalau yang biasa kita baca Lonely Planet atau National Geographic.

The Naked Traveler 2 masih tetap menceritakan pengalaman traveling mbak Trinity dengan objek wisata yang berbeda dari TNT1. Penceritaan yang lebih mendetail menurut saya, karena termasuk pengalaman keseharian mbak Trinity S2 di negeri orang, Filipina. Kalau di TNT1 hanya menceritakan pengalaman keseluruhan. Bedanya lagi, kalau TNT1 banyak menceritakan pengalaman backpacking mostly sendirian mbak Trinity, TNT2 menceritakan pengalaman traveling yang beberapa belas tahun kedepan, dimana mbak Trinity sering bepergian dengan teman-temannya.

Sayangnya, 2 bab awal pada TNT2 sama persis tok tok tidak ada beda titik komanya dengan tulisan pada TNT1. Awalnya saya cukup kecewa saat membacanya. Tapi, saat saya jadi rajin hunting tulisan mbak Trinity di blognya (read: membaca postingan-postingan lama), saya jadi mengetahui bahwa 2 bab yang diceritakan dua kali tersebut, ternyata memang bab asli pada TNT2, yang terpaksa di-copy ke TNT1 secara mendadak karena ada tulisan di TNT1 yang dibredel, alias tidak diizinkan untuk terbit, hanya beberapa saat sebelum TNT1 dirilis. Selidik punya selidik, postingan tersebut ada hubungannya dengan va-jey-jey dan Tiger Show di Thailand ;)

Berkat membaca TNT1&2 juga saya benar-benar ingin bisa mewujudkan mimpi saya untuk jalan-jalan, terutama backpacking, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Berkat kedua buku ini juga, saya jadi sering jalan-jalan di Bandung, tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa teman, benar-benar impulsif, sambil membawa kamera digital untuk menghilangkan stress (baca disini) . Sebagai latihan awal kalau nanti saya benar-benar menjadi independent traveler. Harus berani jalan sendirian di tempat asing. Dan harus muka badak juga tiba-tiba jepret sana jepret sini di tengah kerumunan orang *sebenarnya intinya sih kalimat terakhir ini haha*.

Gaya penulisan mbak Trinity pada TNT1&2 overall tidak jauh dengan gaya penulisan beliau pada tulisan-tulisan di blognya, sharing pengalaman dari sudut pandang mbak Trinity. Oleh karena itu saya sangat penasaran untuk membaca novel mbak Trinity Tersesat di Byzantium, karena tokoh utamanya sudah bukan mbak Trinity lagi melainkan Duo Hippo Dinamis. Siapakah mereka? Mari kita mulai membacanya!

PS: to read my late book review, click here

Tujuan Wisata di Indonesia: Kawah Putih

8 Aug

Pernahkah kamu ke Kawah Putih? Bagi warga Bandung dan sekitarnya, mungkin objek wisata ini sudah tidak asing lagi, baik untuk dikunjungi maupun sekedar mendengar namanya. Kawah Putih terletak di Ciwidey, Jawa Barat sekitar 3 jam perjalanan dari kota Bandung menggunakan mobil. Perjalanan ke Kawah Putih sudah pernah saya ceritakan dalam postingan saya sebelumnya disini (untuk membaca cerita lainnya -dalam bahasa Perancis- silahkan klik disini).

Selama tinggal di Bandung sejak tahun 2005, sudah 2 kali saya ke Ciwidey, keduanya selalu dengan keluarga besar saat Lebaran. Menurut saya, Kawah Putih merupakan tujuan wisata yang cocok jika kita ingin bernarsis ria. Dengan pemandangan yang sangat bagus, kita tidak akan pernah merasa bosan untuk berfoto dan kembali lagi kesana. Bahkan, Kawah Putih tidak jarang dijadikan sebagai lokasi untuk berfoto seperti pre-wed, foto kelas, dan lainnya.

Dengan area wisata yang cukup luas, mulai dari gerbang masuk, turun ke bawah, sampai dengan hutan-hutan kecil disamping Kawah, objek wisata ini menyediakan banyak lokasi (spot berfoto) untuk diekslpor. Lokasi berfoto dibawah ini mungkin sering kamu temukan pada foto-foto yang diambil di Kawah Putih.

Jika kamu perhatikan, perlengkapan yang dibawa saat ke Kawah Putih cukup penghangat badan, baik itu baju lengan panjang, cardigan, sweater, ataupun jaket. Untuk alas kaki, bahkan dengan sendal pun kamu bisa berjalan di medan Kawah Putih yang paling berat. Penghangat badan itu akan membantu kamu untuk tidak menggigil, saat difoto, terutama saat kabut yang mengandung belerang menyerang, seperti foto di bawah ini.

Bahkan tanpa kabut pun, Kawah Putih tetep terasa dingin di siang hari. Foto-foto dibawah ini adalah lokasi foto yang berhasil saya dan saudara-saudara saya berhasil temukan saat kami ke Kawah Putih 2 tahun yang lalu.

Foto di bawah ini adalah foto di depan gua penambangan belerang di area sekitar Kawah Putih. Sepupu saya ini dengan santainya berpose didepan gua walaupun sudah ada larangan untuk tidak berlama-lama disana. Saat itu sekawanan pria ketakutan untuk berfoto disana dan memilih kabur, tidak jadi berfoto. Padahal kalau mereka melihat penjelasan pada papan di dekat gua, kita dilarang untuk berlama-lama disana karena zat asam berbahaya yang keluar dari mulut gua. Bukan karena alasan-alasan tidak masuk akal “ada penunggunya”, “ada yang pernah meninggal di dalam gua”, yang dilontarkan pria-pria ketakutan itu :p

Bagaimana dengan pengalaman liburan kamu kawan?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers