Spoiler alert!
Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama sudah lama dirilis, tapi saya baru mempunyai kesempatan untuk membaca novelnya. Ya, saya lebih dulu menonton versi film dari cerita yang ditulis Jodi Picoult daripada versi novel. Kenapa saya sebut versi? Karena walaupun diangkat dari novel yang berjudul sama, film My Sister’s Keeper mempunyai cerita yang jauh berbeda.
My Sister’s Keeper bercerita tentang keluarga normal Fitzgerald, terdiri dari ayah (Brian), ibu (Sara), dan 2 anak (Jesse dan Kate), yang harus menjalankan hidup yang tidak normal sejak Kate divonis menderita leukemia pada usia 2 tahun. Jesse saat itu berusia 4 tahun. Dalam usaha mengobati Kate dapat dilakukan donor organ, namun sayangnya Jesse bukan donor yang cocok. Sehingga, atas saran dokter, Sara melahirkan anak hasil rekayasa genetika, kemudian diberi nama Anna, sehingga dapat menjadi donor yang cocok bagi Kate. Konflik dimulai saat Anna berusia 13 tahun, menyewa pengacara, Campbell, untuk menuntut orangtuanya agar dapat memiliki kontrol sepenuhnya terhadap tubuhnya, termasuk tidak mendonorkan ginjalnya kepada Kate, saat itu berusia 16 tahun, seperti yang Sara minta.
Kita semua pasti setuju bahwa jika ingin mendapatkan detail dari sebuah cerita, bacalah novelnya. Jika ingin mendapatkan visualiasi, maka tontonlah filmnya. Untuk alasan yang sama, ketidakemengertian saya atas tiba-tiba jatuhnya Campbell saat menonton film terjawab sudah saat membaca novelnya. Walaupun adegan jatuhnya Campbell versi film berbeda dengan versi novel.
Juga terdapat tokoh Julia pada versi novel yang dihilangkan dari versi film. Julia merupakan pengawas dari persidangan yang memberikan penilaian apakah Anna sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri, mengingat saat itu usianya belum mencapai usia dewasa 18 tahun. Julia memegang peranan penting dalam mengubah pemikiran Anna untuk akhirnya mau bersaksi di persidangan, pada versi novel. Sedangkan pada versi film, kejujuran yang akhirnya diungkapkan Anna di persidangan dipengaruhi oleh Jesse, yang tidak banyak diceritakan dalam versi novel. Namun menurut saya, invnsibility Jesse dalam versi novel sangat sesuai dengan karakter yang diciptakan dan plot cerita yang dibangun.
Secara keseluruhan, saya menilai versi novel lebih baik daripada versi film. Pengaruh yang ditimbulkan Sara dan Brian dalam memberikan perhatian kepada Kate terhadap Jesse lebih masuk diakal pada versi novel dibanding versi film. Pada versi novel, Jesse mencari perhatian karena dia invincible di mata kedua orangtuanya. Sedangkan pada versi film, Jesse juga membutuhkan perhatian lebih karena disleksia yang dideritanya.
Saya akui, adegan Jesse membuang hasil karyanya di atap rumah sakit pada versi film sangat menyentuh. Tetapi saya yakin, adegan Jesse membakar pada versi novel akan lebih menyentuh jika divisualisasikan dalam adegan film, jika penonton dibuat mengerti alasan Jesse melakukan hal tersebut seperti pada versi novel.
Akan tetapi, menurut saya ending cerita My Sister’s Keeper lebih masuk diakal pada versi film dibanding versi novelnya. Karena, there’s no coincidence in life, only miracle, which rarely happens, only to extraordinary person. And that certain Fitzgerald doesn’t deserve to be that extraordinary. Or maybe, that’s the exact reason why the novel version is better than the movie version.
Bagaimana ending ceritanya? Baca, tonton, dan buktikan sendiri!







