Archive | books RSS feed for this section

An Eye For The Way We Treat People

25 Apr

An eye for an eye. The famous reason that lies behind most revenge to be conducted. It may seems dark, but it’s actually the antecendent of ‘Treat people the way you want to be treated’. Only the latter sounds a lot nicer.

People do revenge means something bad happened to them first. It’s our reaction to treat other person the same way we were treated. But of course, revenge isn’t a must. And only wise people choose not to do so. While treating other people the way we want to be treated takes initiative and courage. Initiative to do the good deeds first. Courage to forget the past and move on to the present life we have.

If we treat people good, then the eye we will get after is another good thing. If we treat people bad, then the eye we will get after is possibly another bad things. Why possibly? Because there is still a chance that the other hand uses his/her courage to forget the way we treated him/her and takes an initiative to do the good thing back to us instead. Or, he/she do the bad thing to us as been told by ‘An eye for an eye’.

If the other people do not the eye-thingy back to us, believe me, there will always be party that will generously do it back to us. The universe for example. Or in tangible way, the court house. Have you ever think why people suffer death penalty? Mostly because they vanish other people’s life, I don’t know the case that doesn’t. But do you really think they deserve to die?

‘An eye for an eye’ is really a bad term. Only optimistic people can change it into a good one. Thus, the court sentences someone to die means the court kills the man itself. In other word, the court applies the ‘an eye for an eye’ terms, means the court is also the bad one here.

Because I think, no human can sentence other human to die, not even human’s law. It’s God, the one who has the only right to tell when is human’s time is up this life. What can human do to the bad person is to give a lifetime punishment. Or, to lend a hand for the eye that person had thrown in his/her life.

With this post, I hereby sign my support to demolish any death penalty in all court houses in the world. Because no person deserves to die, unless God tells to.

I gratefully thank John Grisham for the meaningful writing in The Chamber that inspired me to write this entry.


[review] My Sister’s Keeper

21 Apr

Spoiler alert!

Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama sudah lama dirilis, tapi saya baru mempunyai kesempatan untuk membaca novelnya. Ya, saya lebih dulu menonton versi film dari cerita yang ditulis Jodi Picoult daripada versi novel. Kenapa saya sebut versi? Karena walaupun diangkat dari novel yang berjudul sama, film My Sister’s Keeper mempunyai cerita yang jauh berbeda.

My Sister’s Keeper bercerita tentang keluarga normal Fitzgerald, terdiri dari ayah (Brian), ibu (Sara), dan 2 anak (Jesse dan Kate), yang harus menjalankan hidup yang tidak normal sejak Kate divonis menderita leukemia pada usia 2 tahun. Jesse saat itu berusia 4 tahun. Dalam usaha mengobati Kate dapat dilakukan donor organ, namun sayangnya Jesse bukan donor yang cocok. Sehingga, atas saran dokter, Sara melahirkan anak hasil rekayasa genetika, kemudian diberi nama Anna, sehingga dapat menjadi donor yang cocok bagi Kate. Konflik dimulai saat Anna berusia 13 tahun, menyewa pengacara, Campbell, untuk menuntut orangtuanya agar dapat memiliki kontrol sepenuhnya terhadap tubuhnya, termasuk tidak mendonorkan ginjalnya kepada Kate, saat itu berusia 16 tahun, seperti yang Sara minta.

Kita semua pasti setuju bahwa jika ingin mendapatkan detail dari sebuah cerita, bacalah novelnya. Jika ingin mendapatkan visualiasi, maka tontonlah filmnya. Untuk alasan yang sama, ketidakemengertian saya atas tiba-tiba jatuhnya Campbell saat menonton film terjawab sudah saat membaca novelnya. Walaupun adegan jatuhnya Campbell versi film berbeda dengan versi novel.

Juga terdapat tokoh Julia pada versi novel yang dihilangkan dari versi film. Julia merupakan pengawas dari persidangan yang memberikan penilaian apakah Anna sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri, mengingat saat itu usianya belum mencapai usia dewasa 18 tahun. Julia memegang peranan penting dalam mengubah pemikiran Anna untuk akhirnya mau bersaksi di persidangan, pada versi novel. Sedangkan pada versi film, kejujuran yang akhirnya diungkapkan Anna di persidangan dipengaruhi oleh Jesse, yang tidak banyak diceritakan dalam versi novel. Namun menurut saya, invnsibility Jesse dalam versi novel sangat sesuai dengan karakter yang diciptakan dan plot cerita yang dibangun.

Secara keseluruhan, saya menilai versi novel lebih baik daripada versi film. Pengaruh yang ditimbulkan Sara dan Brian dalam memberikan perhatian kepada Kate terhadap Jesse lebih masuk diakal pada versi novel dibanding versi film. Pada versi novel, Jesse mencari perhatian karena dia invincible di mata kedua orangtuanya. Sedangkan pada versi film, Jesse juga membutuhkan perhatian lebih karena disleksia yang dideritanya.

Saya akui, adegan Jesse membuang hasil karyanya di atap rumah sakit pada versi film sangat menyentuh. Tetapi saya yakin, adegan Jesse membakar pada versi novel akan lebih menyentuh jika divisualisasikan dalam adegan film, jika penonton dibuat mengerti alasan Jesse melakukan hal tersebut seperti pada versi novel.

Akan tetapi, menurut saya ending cerita My Sister’s Keeper lebih masuk diakal pada versi film dibanding versi novelnya. Karena, there’s no coincidence in life, only miracle, which rarely happens, only to extraordinary person. And that certain Fitzgerald doesn’t deserve to be that extraordinary. Or maybe, that’s the exact reason why the novel version is better than the movie version.

Bagaimana ending ceritanya? Baca, tonton, dan buktikan sendiri! ;)

[review] Buku: Gratis! Keliling Indonesia

18 Oct

Buku ini berjudul lengkap “Gratis! Keliling Indonesia & Belajar di Luar Negeri Karena Blog”, karangan NonaDita. Pertama kali terbit Agustus 2010 dan kebetulan saya sudah membaca bukunya karena kejadian ini. Sebenarnya saya sudah mengomentari buku ini disini secara singkat. Tapi berhubung ada permintaan, baiklah saya akan mencoba mereview lebih jauh buku mengenai pengalaman Nona Dita di dunia per-blogging-an *minta ditimpuk massa :p*.

Siapa sih Nona Dita?

Beneran deh, saya juga tidak tau *ampun mbaak :p*. Tapi setelah membaca buku berjudul menggiurkan tersebut, saya baru ngeh. Ternyata oh ternyata, Nona Dita itu blogger yang bersama Bang Enda Nasution berkesempatan untuk, sebut saja, jalan-jalan ke Amerika Serikat bulan Juli tahun ini. Kepingin juga? Banget! Nah, makanya coba cari tau jurus sukses Nona Dita dibuku yang ditulisnya tersebut ;)

Pada awalnya, saya sangsi dapat menikmati untuk membaca buku ini. Bukan apa-apa, saya paling malas kalau membaca buku yang berisi langkah-langkah dan sejuta suruhan lainnya. Lebih enak membaca buku Don’t Sweat The Small Stuffs daripada How to be Happy kan :)

Tapi ternyata, tidak ada sama sekali langkah-langkah perintah tersebut. Pada buku ini, Nona Dita benar-benar menceritakan bagaimana perserpsi beliau mengenai blog, keuntungan nge-blog, dan pengalaman serta kisah sukses Nona Dita di dunia per-blogging-an. Sharing ilmu tanpa maksud menggurui. Diceritakan dalam bahasa ringan yang enak dibaca dan enak juga dihati hehe.

Buku ini mungkin terkesan untuk pemula, terutama yang benar-benar baru dalam dunia per-blogging-an. Tapi percaya deh, bahkan saya yang sudah mulai nge-blog sejak Oktober 2007 dan mulai rajin ngeblog sejak Februari tahun ini saja masih tertampar dan mau tidak mau mengakui kalau ternyata saya pun ternyata masih pemula di dunia. Bukan apa-apa, soalnya prestasi Nona Dita sudah kaliber di dunia per-blogging-an. Sementara saya nol besar :p

Pesan yang dapat diambil dari buku ini adalah bagaimana kita harus mencoba untuk menjadi netizen yang bukan dan tidak menghasilkan sampah dunia maya, melainkan menulis hal yang berguna bagi orang lain, sekaligus berprestasi. A truly inspiring one!

PS: to read  my late book review, click here

[review] Book: The Naked Traveler 1 & 2

11 Oct

Berhubung banyaknya permintaan pada postingan ini, maka saya pun memberanikan diri mereview buku The Naked Traveler (TNT) 1 & 2 karya Trinity yang sudah saya baca. Bagi yang menunggu review buku 1 lagi, saya ucapkan terimakasih atas kesabarannya *minta ditimpuk :p*.

Harap diingat bahwa saya membaca buku TNT1&2 out of the blue. Tiba-tiba iseng jalan ke toko buku, tiba-tiba iseng membeli buku, tiba-tiba iseng meraih bukunya mbak Trinity, dan tiba-tiba iseng langsung membeli kedua bukunya sekaligus. Saya yang pecinta komik ini memang suka geregetan kalau komik itu terbitnya satu-satu, jadi wajar saja kalau saya langsung membeli buku mbak Trinity 2 buah. Sudah percaya bakal bagus, sudah percaya bakal suka. Padahal saya sama sekali tidak mengikuti blog ataupun twitter beliau. Hihi.

The Naked Traveler 1 menceritakan pengalaman bertahun-tahun traveling mbak Trinity ke tempat-tempat wisata yang pernah dijelajahinya. Pengalaman tersebut diceritakan dalam setiap bab, yang termasuk dalam beberapa subjudul. Seperti pengalaman traveling yang berhubungan dengan passport, airport, dan alat transportasi. Jadi tidak melulu menceritakan mengenai objek-objek wisata itu sendiri. Membahas traveling dari sudut pandang lain, mungkin lebih tepat disebut sharing pengalaman. Pastinya bakal berbeda kalau yang biasa kita baca Lonely Planet atau National Geographic.

The Naked Traveler 2 masih tetap menceritakan pengalaman traveling mbak Trinity dengan objek wisata yang berbeda dari TNT1. Penceritaan yang lebih mendetail menurut saya, karena termasuk pengalaman keseharian mbak Trinity S2 di negeri orang, Filipina. Kalau di TNT1 hanya menceritakan pengalaman keseluruhan. Bedanya lagi, kalau TNT1 banyak menceritakan pengalaman backpacking mostly sendirian mbak Trinity, TNT2 menceritakan pengalaman traveling yang beberapa belas tahun kedepan, dimana mbak Trinity sering bepergian dengan teman-temannya.

Sayangnya, 2 bab awal pada TNT2 sama persis tok tok tidak ada beda titik komanya dengan tulisan pada TNT1. Awalnya saya cukup kecewa saat membacanya. Tapi, saat saya jadi rajin hunting tulisan mbak Trinity di blognya (read: membaca postingan-postingan lama), saya jadi mengetahui bahwa 2 bab yang diceritakan dua kali tersebut, ternyata memang bab asli pada TNT2, yang terpaksa di-copy ke TNT1 secara mendadak karena ada tulisan di TNT1 yang dibredel, alias tidak diizinkan untuk terbit, hanya beberapa saat sebelum TNT1 dirilis. Selidik punya selidik, postingan tersebut ada hubungannya dengan va-jey-jey dan Tiger Show di Thailand ;)

Berkat membaca TNT1&2 juga saya benar-benar ingin bisa mewujudkan mimpi saya untuk jalan-jalan, terutama backpacking, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Berkat kedua buku ini juga, saya jadi sering jalan-jalan di Bandung, tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa teman, benar-benar impulsif, sambil membawa kamera digital untuk menghilangkan stress (baca disini) . Sebagai latihan awal kalau nanti saya benar-benar menjadi independent traveler. Harus berani jalan sendirian di tempat asing. Dan harus muka badak juga tiba-tiba jepret sana jepret sini di tengah kerumunan orang *sebenarnya intinya sih kalimat terakhir ini haha*.

Gaya penulisan mbak Trinity pada TNT1&2 overall tidak jauh dengan gaya penulisan beliau pada tulisan-tulisan di blognya, sharing pengalaman dari sudut pandang mbak Trinity. Oleh karena itu saya sangat penasaran untuk membaca novel mbak Trinity Tersesat di Byzantium, karena tokoh utamanya sudah bukan mbak Trinity lagi melainkan Duo Hippo Dinamis. Siapakah mereka? Mari kita mulai membacanya!

PS: to read my late book review, click here

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers