Archive | thesis RSS feed for this section

Bandung, 18 Maret 2011

20 Mar

Puji syukur kepada Allah SWT. yang telah memberikan petunjuk, kemudahan, dan kelancaran sehingga Tugas Akhir Sarjana dan studi sarjana di program studi Teknik Industri Institut Teknologi Bandung dapat penulis selesaikan.

Selama penulisan Tugas Akhir Sarjana ini, sangat banyak pengalaman dan pembelajaran yang penulis dapatkan. Semoga Tugas Akhir Sarjana ini dapat memberikan manfaat bagi kepentingan akademis pada umumnya dan Direktorat Perencanaan & Pengembangan Sumber Daya PT. PINDAD (Persero) pada khususnya.

Pada bagian ini, penulis ingin menyampaikan rasa Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu, mendukung, mendoakan, dan memotivasi penulis dalam menjalankan masa perkuliahan serta menyelesaikan Tugas Akhir Sarjana ini kepada:

  1. Mama, Papa, Muti, dan Ekal atas kesabaran, pengertian, dan dukungan yang tiada hentinya kepada penulis. Thank you for all the unspoken words. I hope I could have the chance to make you all happy and proud of me.
  2. Bapak Iman Sudirman selaku dosen pembimbing, serta Bapak Joko Siswanto dan Ibu Indryati Sunaryo yang telah banyak memberikan saran dan masukan saat penulis berkonsultasi. Terimakasih atas waktu, nasihat, ilmu, dan pengalaman yang Bapak dan Ibu telah bagikan. Mohon maaf sebesar-besarnya, apabila terdapat kekurangan penulis selama bimbingan berlangsung. Dosen wali Bapak Budhi Prihartono. Terimakasih atas waktu-waktu perwalian, pelajaran-pelajaran, ilmu, dan nasihat yang bapak-bapak berikan selama ini.
  3. Para dosen penguji, Bapak Aso Kusuma dan Ibu Rajesri Govindaraju. Terimakasih atas kesediaan menjadi dosen penguji serta kritik dan saran yang diberikan guna menyempurnakan Tugas Akhir Sarjana ini.
  4. Seluruh staf pengajar di Program Studi Teknik Industri khususnya dan Institut Teknologi Bandung pada umumnya, atas semua ilmu, pengalaman, dan kesempatan yang diberikan pada penulis selama menimba ilmu di Institut Teknologi Bandung. Seluruh staf Tata Usaha Teknik Industri Institut Teknologi Bandung yang telah membantu dan memudahkan penulis dalam mengurus hal-hal administrasi yang berhubungan dengan kegiatan perkuliahan penulis selama ini.
  5. Bapak Irfanul Kamal, Ibu Ibnia Veni, dan Bapak Dany Nuriman atas pelajaran, bimbingan, dan bantuannya selama penulis melakukan penelitian di PT. PINDAD (Persero). Bapak Doddy, Bapak Ilham, Bapak Hadi, Bapak Diyat, Ibu Nining, responden-responden penelitian, serta segenap karyawan perusahaan yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu. Terimakasih atas bantuan-bantuan tak terhingga saat penulis mengumpulkan data di perusahaan.
  6. Vidya Rachmawati, Charisma Utami Irawanti, Nadifa Rizkita. Terimakasih untuk masa lalu, masa sekarang, dan persahabatan selama ini. I’m lucky to have you guys, can’t be what I am today without you. Innal Tanuzy, Jaka Nurrahmat. Terimakasih atas masa-masa gila itu dan sudah menjaga dengan baik perempuan-perempuan ini.
  7. Ira Wulandari Warganegara, Prilla Sista Lily Jane, Astrid Parama Ningrum. Terimakasih untuk kebersamaan tak tergantikan mulai dari tahun pertama kuliah. Irma Sofiani, Atika Wijayanti. Terimakasih atas waktu, cerita, dan aktivitas yang kita lakukan bersama. Thank you for all the time we had and hopefully will gonna have together. I can never thank enough, guys. You’re the best.
  8. Bahana Wiradanti, Anggita Leviastuti, Paramita Apsari Wiryomiharjo. Terimakasih untuk tawa, canda, cerita, cinta, diskusi, bahagia, dan kehadiran selama ini. Anintya Novitasari, Ahmad Nurul Fajri, Elfa Nugraha. Terimakasih atas bantuan, jalan-jalan, makan-makan yang kita lakukan bersama. I can never survive without you, guys.
  9. Farah Anisa Setyawati, Kristianto Wardyaputra, Junita Riany. Terimakasih atas cerita, waktu, bantuan, pelajaran, dan pengalaman selama masa perkuliahan. You never know how much it meant for me. Edwina Triwibowo. Terimakasih atas tawa dan canda yang selalu dilontarkan. Wina, Hafni Junita Putri, Yustika Nur Rahmi, Rizsha Gandjar, Amirah Kaca. Terimakasih atas cerita, bantuan, jalan-jalan, pengalaman yang telah dirasakan bersama selama ini. Yoan Primadisya. Terimakasih sudah rela nge-date sebulan selama KP ;) . Terimakasih atas futsal, bowling bersama, waktu, cerita, jalan-jalan, dan pengalaman yang telah diberikan.
  10. Teman sekelompok Kontek, teman sekelompok TTKI (Yunita, Dwiastuti. It all starts from here ^^), teman sekelompok PTI-0 (Farah, Dita, Jossua, Berry, Addy. Thank you for the restless effort we made), kelompok hepi Prosman Matrek (Sofi, Prilla, Ira, Tidi, Bona. You’re amazing guys), teman sekelompok PTI 1, teman sekelompok PTI 2, pasangan Pemodelan (Rendy. Thank you for all the patience), pasangan PLO (Mita. Twins never die, mbar), teman sekelompok Otomasi, dan kelompok-kelompok tugas lainnya. Terimakasih semuanya telah membantu penulis dalam mengerjakan tugas ini bersama.
  11. Teman-teman Unit Tenis ITB: Dita, Dea, Imlati, Farrah, Danu, Riga, Afif, Panji, Uthe, Alit, Alanta, Edgar, Gendys, Sela. Terimakasih atas tahun terbaik yang mahasiswa tingkat pertama bisa miliki. Ayo sukseskan ikatan alumni ;) . Tim Futsal MTI: Yoan, Riris, Kak Sinta, Kak Asti, Kak Gana, Kak Arrum, Kak Santi, Kak Iyeth, Kak Wulan, Farah, Kak Bojes, Donadoni. Terimakasih atas kepercayaan yang pernah diberikan. Tim Voli MTI: Stella, Mita, Tice, Salwa, Kak Shelly, Kak Ting, Kak Asti, Kak Silvy, Kak Ajeng, Kak Christoper, Kak Ucup, Kak Urpi. Terimakasih atas pengalaman berharga yang pernah diberikan. Emas bukan segalanya ;) .
  12. Ina, Lalla, Pandy, dan teman kelas 2 lainnya. Tati, Metha, Tiwtiw, Dwinita, dan teman-teman seangkatan lainnya. Adi, Theo, Terry, dan teman-teman sewali lainnya. Terimakasih atas waktu-waktu di kelas dan di luar kelas. I’m gonna miss you guys.
  13. Prasetya Wibowo, Ira, Bana, Anita, Ade Mareta, Dissa Riandaso, Sebrina Frey, Laras Ayu Tirta. Terimakasih atas gangguan, bantuan, diskusi, konsultasi selama penulis mengerjakan Tugas Akhir Sarjana ini. I can never finish it without you. Teman seperjuangan mengerjakan tugas akhir (Ade, Tidi, Wina, Hadit, Dardiri, Fitri, Tice, Anita, Yoan). Terimakasih telah saling memberikan semangat, bantuan, dukungan, dan informasi selama mengerjakan tugas akhir. Semoga kita semua sukses di masa depan. Amiiinn.
  14. Riastari Primatita, Reno Fitria Sari, Haudi Hasaya. Terimakasih atas persahabatan tiada putus sejak kita masih memakai seragam sekolah. Nurul Aufa. Terimakasih atas waktu, cerita, dan bantuan yang diberikan, serta pengalaman bersama tak terduga yang selalu terjadi. We should do it more!. Nicholas Melky. Terimakasih atas waktu, pengertian, suka, duka, pelajaran, pengalaman, dan pertemanan selama ini.
  15. Mutia Afifah Riza, Haikal Mahfuzh Riza. You both are my true rivals, motivations, and inspirations.
  16. Keluarga besar penulis, serta seluruh pihak yang telah membantu penulisan Tugas Akhir Sarjana ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Terimakasih banyak.

*
Special thanks buat Bana yang jadi special repot di hari itu :) Too bad I’m no longer your soulmate, you have Dimas now :’) Love you always, dear.

*
Yosh! Mari mengerjakan revisi. Laalala.

Listrik Sumber Kehidupan

16 Mar

Air sumber kehidupan. Itu yang saya baca di buku pelajaran SD. Tapi sepertinya, listrik merupakan sumber kehidupan manusia modern dewasa ini.

Bayangkan apa yang terjadi kalau 1 hari saja kamu tidak minum air.
Pusing. Dehidrasi. Kulit kering. Efeknya baru terasa beberapa jam setelah kamu tidak memberikan asupan air mineral ke dalam tubuh kamu.

Bayangkan apa yang terjadi 1 hari saja kamu tidak mendapatkan sumber listrik.
Tidak bisa minum air hangat, karena air mineral kamu bersumber dari dispenser. Tidak bisa makan nasi, karena tidak bisa dimasak tanpa rice cooker. Tidak bisa mandi, karena sumber air kamu dapatkan dengan bantuan pompa air. Tidak bisa menonton tv, menghidupkan komputer, dan yang paling penting, tidak ada sumber cahaya.

Bayangkan apa jadinya kalau PLN memutuskan aliran listrik sekompleks perumahan kamu mulai dari makan siang sampai tengah malam, padahal kamu seharusnya mengerjakan skripsi.
Curhat colongan, yes I am, really sorry for the rant. Tanpa pemberitahuan apa-apa, dua hari yang lalu kejadian di atas menimpa saya.

Lupakan sejenak tidak bisa koneksi ke internet karena Telkomsel tiba-tiba lemot. Saya terhambat mengerjakan slide presentasi karena kompleks rumah saya terkena pemadaman. Tidak ada sumber cahaya, tidak bisa menghidupkan laptop karena masalah baterai. Harap maklum, usia laptop saya sudah mencapai kepala 40 bulan.

Tidak jadi masalah kalau ada pemberitahuan sebelumnya, sehingga penghuni rumah bisa mengatur aktivitas di luar rumah. Tidak jadi masalah kalau pemadaman hanya beberapa jam. Kenyataannya, listrik baru dihidupkan pukul 12 malam. Sukses 2 batang lilin dihabiskan untuk penerangan di rumah setelah matahari terbenam.

Derita bertambah saat baterai handphone saya tiba-tiba habis setelah makan malam. Terasing? Hell, I was.

Terimakasih PLN dan Telkomsel, untuk pengalaman tak terlupakan selama mengerjakan skripsi ini.

Oke saya akui, postingan ini tidak akan dibuat kalau saja saya langsung mengungsi ke kosan teman setelah 2 jam listrik tidak kunjung dihidupkan. :p

Baca postingan saya yang lain mengenai manusia dan teknologi disini.

Halo Maret

4 Mar

Dua bulan belakangan ini saya sibuk berjibaku dengan keberlangsungan masa depan saya. Karena itu, maafkan saya hanya sempat menulis 1 postingan per bulan. Banting tulang bakar lemak selama Januari Februari kemarin sudah menunjukkan sedikit hasil, saya bisa mengumpulkan draft skripsi di awal bulan ini. Doakan kelancaran sidang saya pertengahan bulan ini ya kawan.

Draft skripsi, check. One step closer to whatever it is I wish to achieve in the future. I really hope this year will be better than the last one. So far, the first two months of the year was promising. Thank goodness, and all people that have been supporting me all this time. Yes, you.

*

Buat kamu yang lagi akan atau sedang menyusun skripsi, satu pesan saya. Jangan percaya dengan pengalaman baik (baca: timeline optimis) orang lain saat menyusun skripsi. Just don’t.

Jangan percaya kalau ada yang bilang menyusun skripsi itu bisa dikebut dalam 2 bulan saja, katanya “asalkan udah tau apa yang mau dikerjakan”. Jangan percaya kalau ada yang bilang pengolahan data itu bisa dikerjakan dalam 1 minggu saja, katanya “tinggal klik klik, kan pake software”. Jangan percaya kalau ada yang bilang analisis itu bisa selesai dalam sehari, katanya “ngemeng doang, cepetlah”.

Ndasmu.

Kalau ada yang benar-benar bisa mengerjakan skripsi hanya dalam 2 bulan saja, saya angkat alis setinggi-tingginya. Tidak terbayangkan oleh saya makhluk yang terbuat dari apa yang bisa melakukan seperti itu. Saya yang dua bulan baru sampai pengolahan di excel belum memasukkan ke dalam laporan saja sudah jadi setengah zombie, apalagi yang bisa mengerjakan skripsi hanya dalam 2 bulan tapi sudah selesai kesimpulan saran. Salut!

Kadang, hambatan dalam mengerjakan skripsi bukan datang dari dalam diri kita, seperti rasa malas. Tapi juga berhubungan dengan manusia lain yang punya andil dalam skripsi kita, seperti responden, dosen pembimbing, orang tua, keluarga, pacar *kalau punya*, teman seperjuangan mengerjakan skripsi, ibu kantin, bapak angkot, mas2 fotocopyan. Hell, the universe.

Melalui postingan ini, saya ingin minta maaf kepada responden-responden penelitian yang sudah saya repotkan. Kepada karyawan-karyawan perusahaan yang ikut terepotkan karena pengambilan data saya. Pembimbing-pembimbing skripsi saya (yes, they’re more than one!). Ayah, ibu, adik-adik, dan keluarga besar. Teman-teman seperjuangan mengerjakan skripsi. Teman-teman yang tidak mengerjakan skripsi tapi ikut terepotkan karena saya mengerjakan skripsi. Teman-teman yang sudah banyak membantu, mengajarkan, melancarkan, menyemangati, dan memaklumi selama saya mengerjakan skripsi. Again, you.

*

So, how’s your 63 days on the new year so far, dear readers? :)

Pelajaran Kehidupan di Luar Bangku Sekolah

22 Sep

Masih jelas dalam ingatan saya kejadian setahun yang lalu saat saya masih menjalankan kerja praktek di sebuah perusahaan produsen alat-alat elektronik di Kawasan Industri Cikarang Barat, Bekasi. Silahkan tanya teman seperjuangan saya disana, Yoan, betapa ampasnya kerja praktek yang kami lakukan disana, sehingga saya menjadi sangat malas-malasan menjalankannya. Oke, ini hanya pembelaan semata, hehe.

Masih jelas dalam ingatan bagaimana tertamparnya saya disana, oleh perkataan seorang operator perakitan yang saya observasi. Adit, namanya, pada hari kesekian saya disana berkata “Kak Nadia, kalau kuliah di ITB mahal ya? Saya kepengen deh bisa kuliah disana”. Percaya deh, satu kalimat tersebut dapat membuat siang saya menjadi menarik untuk dijalankan, sekaligus menyegarkan saya dari kantuk, yaa.. karena tertampar-tampar itu tadi.

Usut punya usut, ternyata Adit lulusan sebuah SMK di Bekasi, yang karena ketiadaan biaya dari orangtuanya memilih untuk bekerja menjadi seorang perakit alat-alat elektronik, di perusahaan tempat saya menjalankan kerja praktek tersebut. Adit sudah bekerja disana selama setahun dan selama itu pula dia menabung agar dapat melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Menurut Adit, “Kerja disini gak enak Kak. Saya capek banget kerja setiap hari, kadang-kadang sampai 2 shift. Bahkan Sabtu dan Minggu pun gak libur”.

Ya Tuhan. Adit itu umurnya diantara adik saya yang kedua dan ketiga. Saya kagum pada semangat Adit untuk mengikhlaskan pendidikannya tertunda agar dia bisa mencari sendiri duit kuliahnya. Sementara orangtua Adit sudah menyatakan ketidaksanggupan mereka kalau harus membiayai pendidikan Adit sampai bangku kuliah. Ya Tuhan. Di saat orang lain ingin kuliah, saya malah malas-malasan membuat laporan kerja praktek yang tidak seberapa sulitnya. Hanya. Tinggal. Mengetik.

Setelah keluar dari perusahaan, Adit berangkat ke Bandung dengan harapan biaya kuliah di Bandung jauh lebih murah dibanding di Jakarta. Kebetulan keluarga Ibunya Adit ada yang tinggal di Bandung jadi bisa menumpang tinggal disana. Terakhir saya ketahui, Adit balik ke Bekasi dan berwirausaha membantu orangtuanya karena ternyata biaya pendidikan di Bandung tidak beda jauh dengan di Jakarta. Tabungan Adit tidak mencukupi untuk membayar uang pangkal, padahal dia sudah berniat untuk kerja part-time demi menghidupi kesehariannya di Bandung. Ngenes.

Tamparan kedua berasal dari kasir Yomart di depan rumah saya, Mbak Wulan. Sebenernya umurnya tidak beda jauh dengan saya, tapi demi norma kesopanan dan keseganan, alias memang belum kenal terlalu dekat, kami saling memanggil mbak. Cerita mengenai beliau sebelas-dua belas dengan Adit, yang baru saya ketahui kenyataannya seminggu yang lalu.

Singkat cerita, Mbak Wulan juga langsung bekerja setamatnya beliau dari sebuah SMK di Bandung. Sekarang, setelah beberapa tahun bekerja, Mbak Wulan akhirnya bisa kuliah D3 di perguruan tinggi swasta di Bandung, dan jika sudah lulus nanti berniat melanjutkan ke S1. “Saya sanggupnya kalau dicicil gitu mbak. Kalau langsung S1 ga sanggup bayarnya”, curhat beliau. Ya Tuhan. Saya bisa jawab apa kalau dicurhati seperti itu.

Padahal saat ini saya tinggal menyelesaikan skripsi saya saja, tidak perlu mencuci beberapa sks saya. Tinggal menamatkan 4 sks tersisa, yang tidak tau kenapa sangat malas saya kerjakan. Bahkan niatan untuk mulai mengerjakannya pun sesusah menemukan sinyal HSDPA dari lantai 1 rumah saya. Saya hanya tinggal meluluskan kuliah saja, sedangkan oranglain masih harus berjibaku bagaimana untuk memulai kuliah itu. Ya Tuhan maafkan saya..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers