[review] My Sister’s Keeper

21 Apr

Spoiler alert!

Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama sudah lama dirilis, tapi saya baru mempunyai kesempatan untuk membaca novelnya. Ya, saya lebih dulu menonton versi film dari cerita yang ditulis Jodi Picoult daripada versi novel. Kenapa saya sebut versi? Karena walaupun diangkat dari novel yang berjudul sama, film My Sister’s Keeper mempunyai cerita yang jauh berbeda.

My Sister’s Keeper bercerita tentang keluarga normal Fitzgerald, terdiri dari ayah (Brian), ibu (Sara), dan 2 anak (Jesse dan Kate), yang harus menjalankan hidup yang tidak normal sejak Kate divonis menderita leukemia pada usia 2 tahun. Jesse saat itu berusia 4 tahun. Dalam usaha mengobati Kate dapat dilakukan donor organ, namun sayangnya Jesse bukan donor yang cocok. Sehingga, atas saran dokter, Sara melahirkan anak hasil rekayasa genetika, kemudian diberi nama Anna, sehingga dapat menjadi donor yang cocok bagi Kate. Konflik dimulai saat Anna berusia 13 tahun, menyewa pengacara, Campbell, untuk menuntut orangtuanya agar dapat memiliki kontrol sepenuhnya terhadap tubuhnya, termasuk tidak mendonorkan ginjalnya kepada Kate, saat itu berusia 16 tahun, seperti yang Sara minta.

Kita semua pasti setuju bahwa jika ingin mendapatkan detail dari sebuah cerita, bacalah novelnya. Jika ingin mendapatkan visualiasi, maka tontonlah filmnya. Untuk alasan yang sama, ketidakemengertian saya atas tiba-tiba jatuhnya Campbell saat menonton film terjawab sudah saat membaca novelnya. Walaupun adegan jatuhnya Campbell versi film berbeda dengan versi novel.

Juga terdapat tokoh Julia pada versi novel yang dihilangkan dari versi film. Julia merupakan pengawas dari persidangan yang memberikan penilaian apakah Anna sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri, mengingat saat itu usianya belum mencapai usia dewasa 18 tahun. Julia memegang peranan penting dalam mengubah pemikiran Anna untuk akhirnya mau bersaksi di persidangan, pada versi novel. Sedangkan pada versi film, kejujuran yang akhirnya diungkapkan Anna di persidangan dipengaruhi oleh Jesse, yang tidak banyak diceritakan dalam versi novel. Namun menurut saya, invnsibility Jesse dalam versi novel sangat sesuai dengan karakter yang diciptakan dan plot cerita yang dibangun.

Secara keseluruhan, saya menilai versi novel lebih baik daripada versi film. Pengaruh yang ditimbulkan Sara dan Brian dalam memberikan perhatian kepada Kate terhadap Jesse lebih masuk diakal pada versi novel dibanding versi film. Pada versi novel, Jesse mencari perhatian karena dia invincible di mata kedua orangtuanya. Sedangkan pada versi film, Jesse juga membutuhkan perhatian lebih karena disleksia yang dideritanya.

Saya akui, adegan Jesse membuang hasil karyanya di atap rumah sakit pada versi film sangat menyentuh. Tetapi saya yakin, adegan Jesse membakar pada versi novel akan lebih menyentuh jika divisualisasikan dalam adegan film, jika penonton dibuat mengerti alasan Jesse melakukan hal tersebut seperti pada versi novel.

Akan tetapi, menurut saya ending cerita My Sister’s Keeper lebih masuk diakal pada versi film dibanding versi novelnya. Karena, there’s no coincidence in life, only miracle, which rarely happens, only to extraordinary person. And that certain Fitzgerald doesn’t deserve to be that extraordinary. Or maybe, that’s the exact reason why the novel version is better than the movie version.

Bagaimana ending ceritanya? Baca, tonton, dan buktikan sendiri! ;)

About these ads

19 Responses to “[review] My Sister’s Keeper”

  1. arman April 21, 2011 at 12:48 am #

    gua sukaaaa ama film ini!!!
    bagusssss banget ya…
    gua gak baca novelnya sih. tapi filmnya gua suka banget… menyentuh banget…

  2. sky April 21, 2011 at 2:00 am #

    novel yang difilmkan mmg selalu mengecewakan :D

  3. maucokelat April 23, 2011 at 10:33 pm #

    kenapa org barat selalu bisa mengangkat hal2 kecil menjadi film hebat macam ni.

  4. sikiky April 24, 2011 at 10:00 pm #

    banyak bener yang rekomendasiin niy….ya bukunya ya filmnya…tapi aku (sok) sibuk…

  5. penuliscemen April 25, 2011 at 6:39 am #

    wah film bagus nih… jadi ingat sama novel The Notes Left Behind. Cerita2 spt ini memang menyentuh

  6. keblug April 25, 2011 at 8:27 am #

    sudah nonton filmnya. tapi belum baca bukunya… keknya lebih menyentuh versi novelnya ya (biasanya sih begichu)

  7. uphiet April 25, 2011 at 1:16 pm #

    Wah, jadi tertarik baca novelnya juga :)

  8. Novroz April 25, 2011 at 3:27 pm #

    Review yang bagus (jadi pengen ngerwview pake Indonesia lagi)…tapi sayangnya apapun kata orang, sy SAMA SEKALI GA MAU nonton filmnya.

    My Sister’s Keeper itu sebenarnya cerita yang pasaran dan dah sering dibukukan atau difilmkan…yang bikin bukunya SANGAT menarik adalah endingnya, begitu dengar endingnya di film jadi berubah maka sy pun males tuk nntn.

  9. @helgaindra April 25, 2011 at 4:48 pm #

    filmnya udah dihapus seminggu yang lalu
    padahal pengen liat cuma gak pernah sempet
    jadi ya dihapus aja
    hehe

    • @helgaindra April 27, 2011 at 8:51 am #

      eh ngga dihapus deng.
      ternyata masih ada dan masih… belom ditonton juga :D

  10. sibair April 27, 2011 at 1:32 pm #

    saay belum nonton sih mbak.. tapi review ini bikin saya tertarik buat nonton :D

  11. hanif mahaldy April 27, 2011 at 4:23 pm #

    suka film ini, padahal udah ditahan2 biar gak mewek, eh,nangis juga saya akhirnya. hahaha. bagus buat renungan nih.

  12. maminx April 30, 2011 at 12:12 am #

    asik saya nonton pelm nya aja deh klo gitu tar donlot :D.. tquu

  13. ira May 1, 2011 at 6:33 am #

    i think the ending in the novel version is better than the movie. because i really cried a lot back then..
    lol
    thats why its called the sister’s keeper because she really keep her old sister.. until death does them apart..

    • nadiafriza May 12, 2011 at 2:37 pm #

      corrected, i think it’s: she really keep her sister, even after death does them apart. :)

  14. r10 May 4, 2011 at 6:49 pm #

    belum baca novelnya, kalau filmnya sih sudah, ceritanya pasaran, tapi tetap saja banjir air mata saat nonton

    *sial aku perasa banget kalau nonton film model begini

  15. nate May 9, 2011 at 12:27 am #

    filmnya bagus.. menyentuh banget..

  16. Tyka May 13, 2011 at 5:52 am #

    Jenis film dan buku yg bukan merupakan favorit saya. Tp penasaran jg pgn tau endingnya gmn…

  17. silver March 7, 2012 at 5:23 am #

    Wlo org2 srg blg versi novel lbh bgs dr filmny. Tp nurut gw lbh realistis versi filmny. Liat z endingny. D film wjrlh kate akhrny mninggal scra dy khan pnderita leukimia tipe langka lg. Bs brthan brthn2 lmny z dh miracle. Smtra d novel yg ninggal justru anna gr2 kecelakaan n kbtln bngt kate butuh ginjal n malh kate trus idup n jd plth tari (hanya 6 thn stlh dpt donor). Y wlo ddunia mang g da yg bs nebak. Kdg2 da kbtln yg tak trduga. Tp klo cerita ky gni dbikn novel n dbkn smiracle ky gni mlh jd aneh. Tp nmny jg novel. Sah2 z org ngayal. Versi film lbh real. Ngajarn org bwt bljr nerima kenyataan wlo pahit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 107 other followers

%d bloggers like this: