[ss] Aku, Diba, dan Merah Darah di Tanganku

18 Jul

Rumah tanggaku berjalan harmonis, kami bahkan dianugerahi seorang bayi perempuan yang lucu. Pendapatanku dan suamiku mencukupi kebutuhan hidup kami sehari-hari, bahkan kami mempunyai dana yang jika dihitung-hitung dapat membiayai Diba, anak kami, kuliah di luar negeri sampai lulus S2. Apalagi yang kurang?

Hari-hari yang kujalani sebagai ibu baru memang cukup sibuk. Pagi hari, aku harus sudah bangun sebelum Sakti agar aku bisa menyiapkan sarapan, memandikan Diba, dan bergegas pergi ke kantor. Dalam perjalanan ke kantor aku, sempatkan ke rumah orangtuaku untuk menitipkan Diba. Istirahat makan siang, aku sempatkan pulang ke rumah orangtuaku agar dapat menyusui Diba. Sore hari sebisa mungkin aku sudah menjemput Diba dan sampai di rumah sebelum Sakti pulang.

Capek? Tentu. Tapi aku jalani dengan senang hati karena aku sangat mencintai suamiku dan anak kami. Aku harap Diba dapat tumbuh menjadi perempuan yang hebat karena kecilnya saja sudah menggemaskan. Oke, itu tidak nyambung. Intinya, aku sangat sayang Sakti dan Diba. Mereka adalah alasan aku tetap semangat menjalani hari-hariku.

Hari ini aku izin tidak masuk kantor, lagi. Belakangan ini aku memang sering sakit. Kata dokter, aku kelelahan, terlalu banyak pikiran. Sakti sampai bingung aku kelelahan memikirkan apa, karena setaunya aku enjoy saja menjalani peran baruku ini. Sakti sampai bela-belain pulang ke rumah istirahat makan siang barusan, demi mengantarkan sup hangat untuk ku makan. Lihat kan? Bagaimana mungkin aku tidak sayang suamiku?

Tapi.. sebenarnya aku memang tidak jujur pada Sakti mengenai satu hal. Aku adalah istri yang baik, tapi aku yang saat ini ketakutan tidak akan bisa menjadi ibu yang baik bagi Diba. Aku yang ceroboh, aku yang selalu memendekkan umur benda-benda di rumah. Bagaimana kalau ternyata aku menyakiti Diba?

Bagaimana kalau ternyata aku tidak bisa lembut pada Diba seperti layaknya ibu-ibu lainnya? Bagaimana kalau insiden Diba terlelap di bak mandi seperti seminggu lalu terulang lagi? Atau Diba tidak akan pernah berhenti menangis lagi saat aku membersihkan kotoran di telinganya?

Dan Sakti masih tetap percaya padaku. Dan Sakti masih tetap sayang padaku. Bagaimana mungkin aku bisa menceritakan yang ada di pikiranku, keraguanku kepadanya? Diba sayang.. bunda sangat sayang sama kamu. Bunda selalu senang berada di antara anak-anak kecil, dan di antara semuanya kamu tetaplah bayi paling manis di mata Bunda. Maafkan kesalahan-kesalahan Bunda ya sayang, Bunda sama sekali tidak bermaksud menyakiti kamu.

Diba yang sekarang sedang tertidur di pelukanku, pelan-pelan aku tidurkan di tempat tidurnya yang mungil. Putriku memang manis sekali. Pelan-pelan aku keluar dari kamarnya, turun ke lantai bawah, menuju dapur. Minum kopi sepertinya tidak apa-apa untuk orang sakit ya? Semoga saja.

Sakti dan aku memang memutuskan tidak akan memakai baby sitter untuk menjaga dan membesarkan Diba. Bahkan setelah kejadian seminggu yang lalu, Sakti masih tetap percaya kepadaku dan kemampuanku. Mungkin aku memang harus mulai percaya pada diriku sendiri.

“Mbak Ni, tolong buatkan saya kopi ya”, kataku pada orang yang telah membantuku dan Sakti membersihkan rumah sejak awal pernikahan kami. Mbak Ni malah kebingungan melihatku, aku melihat sorot panik dimatanya. Hmm.. ada apa ini? Dan bukannya membuatkanku kopi, Mbak Ni malah bergegas menuju telepon yang tidak jauh dari kulkas.

“Mbak.. telponnya nanti saja, saya ngantuk banget nih”, pintaku lagi. Aku tidak mengerti, Mbak Ni malah bergegas ke lantai atas. “Mungkin Mbak Ni kelupaan menjemur pakaian”, pikirku. Kelelahan, aku pun tertidur meja makan. Dalam tidurku, tanpa membuka mata, aku sedikit menggeser kepalaku karena ternyata meja makan agak sedikit berair.

“Citra.. apa yang kamu lakukan?”, suara Sakti terdengar di telingaku dari kejauhan. Bangun secara terpaksa seperti itu, aku pusing sekali. Kubuka paksa mataku, kunang-kunang. Sakti ada di ambang dapur. “Citra.. kamu apakan Diba?”, akhirnya aku dapat membuka mataku. Melihat sorot matanya, baru kusadari suara hangat Sakti telah hilang. Dingin, dingin sekali.

Bingung, aku edarkan pandangan. Kenapa ada banyak sekali orang di rumah ini? Terlalu ribut untuk rumah kami yang biasanya tenang. “Sayang.. ada apa?”, kataku mendekat pada Sakti. Dan suamiku itu tidak bergeming, tetap ditempatnya. Tetap melihatku dengan sorot matanya yang membuatku menggigil.

“Oh tidak. Ada apa ini?”, pikirku.

Ku dengar isakan Mbak Ni dari kejauhan. “Kenapa menangis Mbak Ni, ada apa?”, tanyaku dalam hati. Tiba-tiba mendapat perasaan tidak enak, aku berhenti. Sakti pergi dari dapur, meninggalkanku, kebingungan sendirian.

“Sakti..”, panggilku kebingungan. Sakti berbalik, melihatku dengan matanya yang sedikit terlihat merah, dan berkata lirih, “Tunggu disana Citra. Polisi mau bicara dengan kamu”. Dan Sakti pergi, bersama Mbak Ni. Bapak berseragam cokelat ini mendekatiku. Bapak-bapak. Ada 2 orang. Lalu dari kejauhan aku mendengar bunyi sirine. Eh, ambulans?

“Silahkan duduk Bu Citra”, kata Bapak Polisi yang pertama. Aku pun duduk di meja makan terdekat, sambil memainkan kedua tanganku, cemas. Apa ini yang lengket-lengket ditanganku? Aku melihat kedua tanganku, kesepuluh jariku.

Tanganku semerah warna darah. Tapi ini bukan darahku.

About these ads

8 Responses to “[ss] Aku, Diba, dan Merah Darah di Tanganku”

  1. mylitleusagi July 20, 2010 at 9:55 pm #

    ceritanya bagus banget ya..
    mungkin dia punya kepribadian ganda ya..
    jdi gak sadar kalau dia yang bunuh diba..

    • nadiafriza July 21, 2010 at 10:20 am #

      whoa thankies :)

      agak psycho ceritanya :p tapi kayaknya cerita gagal ya..? huhu..

      emang ga terlalu dijelasin bagian itu. sebenernya maksud saya Citra nya manic depressive huhe

  2. krupukcair July 21, 2010 at 12:23 pm #

    bukan gagal mas, tapi memang menurut saya lebih baik seperti itu. Biarkan pembaca yang berimajinasi menentukan sesuai dengan khayalannya. Mas tinggal menyajikan saja.
    Keren sekali mas….:idea: :mrgreen:

    • nadiafriza July 21, 2010 at 7:24 pm #

      errr kamu manggil saya mas? umm bwahahahaha ROFL LMAO.. astagaa.. bisa2nya :D bahkan dari tulisan pun saya di anggap cowo..? ckckck. makasi loh :)

      hmm gitu yaa..? makasih :) saya masi belajar nulis nih hehe

  3. Ifan Jayadi July 22, 2010 at 3:51 am #

    Ceritanya misterius. Pembaca jadi penasaran dgn kelanjutatannya. Memang cerita tentang seorang yg berkepribadian ganda selalu enak utk diikuti

    • nadiafriza July 22, 2010 at 9:45 am #

      wow ampe ngirim 3 komen yg sama :D tapi yg ke2 ama ke3 dianggap spam ama akismet huhe

      umm.. makasih mas

  4. MUHAMMAD SAROJI July 24, 2010 at 12:20 am #

    Aku ngeri membaca kisah ini…
    Salam kenal

    • nadiafriza July 24, 2010 at 3:14 pm #

      makasih udah baca n komen mas :) salam kenal ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers

%d bloggers like this: