[ss] adik kecil di malam itu

16 Feb

Aku menyelonjorkan kakiku, sedikit menggerakkan badanku ke kiri dan ke kanan. krek.. pegal juga ternyata menatap layar komputer seharian sejak makan siang. Ini adalah hari kelima.. eh atau hari keempat ya aku lupa. Anggap saja ini hari kelima aku bekerja kesetanan menyelesaikan tugas skripsiku. Dikejar deadline. Pengumpulan draft terakhir 2 hari lagi dan ketikanku masih jauh dari selesai.

Bekerja dalam gelap seperti ini selalu membuatku segar, bukannya mengantuk. Tanpa ada lampu di dalam kamar yang menyala sama sekali, hanya bermodalkan penerangan dari layar komputer. Memang cara ini membuat mataku lebih cepat lelah, tapi hanya dengan begini aku dapat berkosentrasi menyelesaikan pekerjaanku.

Tanpa musik, tanpa televisi, tanpa cemilan. Tiga makhluk yang dapat dengan mudahnya mengalihkan perhatianku dari layar komputer. Otakku sudah cukup bernyanyi membuat irama tulisan. Mataku sudah cukup terhibur dengan kursor komputer yang lincah bergerak kesana kemari mengikuti hasil ketikanku. Dan perutku sudah cukup kenyang membayangkan wajah dosen pembimbingku yang kecewa jika aku gagal mengumpulkan draft skripsi untuk yang kedua kalinya.

Aku menatap dinding kamar.. jam 11 lebih 20 menit. Sepi sekali malam ini. Sepertinya yang lain sudah pada tidur. Refleks aku menoleh ke belakang. Pintu kamar sudah ditutup. Okelah.. keadaan ideal untuk melanjutkan ketikan. Aku pun menajamkan penglihatanku dan mulai melanjutkan mengetik.

Sret.. tak ayal aku spontan menoleh ke kanan. Ke arah satu-satunya jendela yang ada di ruangan ini. Ada anak kecil yang bermain di beranda kamarku.

Tunggu dulu… oh ayolah. Masa dia mau datang menggangguku di saat-saat penting seperti ini. Aku mahasiswa tingkat kelewat akhir yang mengontrak rumah bersama 3 orang temanku yang lain. Kami berempat sebaya umurnya. Dan anak kecil yang bermain di beranda itu bukan temanku.. siapa lagi kalau bukan dia. Jangan panggil kakak-kakakmu ya adek kecil, pintaku.

Tiba-tiba mataku tertutup. Bukan. Mataku ditutup oleh sepasang tangan yang dingin. Atau sesosok tangan..? Aku tidak berani membayangkan. “Aduh Hana, kamu kenapa lengah begini sih. Makanya selalu ingat pesan Abbi, jangan melamun”, pikirku. Padahal aku tidak melamun, hanya bengong sepersekian detik saja. Dan sekarang aku tidak berani teriak. Jangan sampai membuat panik teman-temanku.

Tapi tangan yang menutupi mataku ini terasa begitu nyata. Aku tidak pernah ingat Abbi menceritakan padaku bagaimana rasanya bersentuhan dengan mereka. “Ayo tenang Hana, tenang. Coba pikirkan sesuatu”.

Kali ini jantungku terasa dingin. Aku takut? Ya, pasti. Tapi aku membeku? Bukan. Rasanya seperti ada tangan lain yang berusaha merasakan bagaimana detak jantungku saat ini. Pastinya itu bukan tanganku. Tangan ini tau pasti jantungku ada dimana. Dan tangan ini lebih kecil dan terasa lebih halus dari tangan yang menutupi mataku. Astaga aku dikeroyok. Mereka bertiga dan aku sendiri. Dasar adik kecil.. beraninya memanggil kakak-kakakmu.

Mereka bertiga.. bagaimana ini?  Mereka tidak pernah muncul bertiga sebelumnya. Selalu berdua dengan si adik kecil, bergantian. Jangan-jangan tangan mungil ini bukan sekedar ingin mendengar detak jantungku. Tapi ingin mencuri jantungku juga? “Oke stop Hana.. itu konyol. Mereka tidak akan mungkin menyakitimu. Mereka hanya ingin bermain-main denganmu, menakut-nakutimu”.

Okelah.. akan kucoba berbicara dengan mereka. Walaupun aku tidak yakin akan berhasil. Beberapa kali kemunculan sebelumnya, si adik kecil tidak pernah mau kuajak berbicara.

Kalian mau apa?”, tanyaku. Lirih, tapi aku yakin mereka bisa mendengarku.

Tidak ada balasan.

Dong.. Satu kali. Dong Dong Dong Dong.. Lima kali. Dong Dong Dong Dong Dong.. Sepuluh. Dong Dong.. Suara itu berhenti, dua belas kali. Betapapun menyeramkannya malam ini bagiku, suara jam di rumah ini tidak mengagetkanku. Aku sangat mengenali suaranya. Bunyi dong dua belas kali itu menunjukkan sekarang tepat tengah malam. Yang terpikirkan olehku hanyalah, 33 jam lagi batas pengumpulan draft. “oh ayolah adik kecil. Ajak kakak-kakakmu menjauh dariku”.

Aku sudah mengajak berbicara, satu kali, dan tidak dijawab. Bukannya ingin menyerah. Tapi berdasarkan pengalaman dengan si adik kecil, mereka mungkin memang tidak mau berbicara denganku. Mereka tidak pernah berbicara kepadaku. Atau karena aku tidak bisa mengajak mereka berbicara? Ah Abbi.. masih banyak yang harus kupelajari darimu.

Si tangan mungil tiba-tiba bergerak. Menghilang dari jantungku. Kemana perginya dia? Apakah sudah bosan bermain-main denganku? Tapi tangan besar yang menutupi mataku tetap ditempatnya. Dan akupun masih belum berani bergerak ataupun mengeluarkan suara kembali. Aku juga tidak berani memegang sepasang tangan besar di mataku ini. Sekedar menyentuhnya, untuk merasakan seberapa dingin suhu tubuhnya. Tidak, aku harus bisa bertahan.

Detik. Detik. Detik. Detik demi detik berlalu, si tangan besar tidak juga beranjak dari tempatnya. Malam hening sekali malam ini. Apakah si adik kecil sudah pergi dengan si tangan mungil ya?

dzing

Eh? Suara apa itu? Aku tidak kenal. Sejenak, aku sangat takut.

Si tangan besar melepaskan diri. Sesaat, walaupun mataku tidak ada yang menutupi, aku tidak bisa melihat. Hitam.

dzing ding dzing DAR! DAR! DAR! DAR!

Aku spontan menoleh ke arah datangnya suara, jendela kamarku. Kembang api.. eh?

“Happy birthday Hanaaa!!!”

Si tangan besar membalik tubuhku cepat. Berdirilah disana.. 3 temanku tersayang. Anti memegang kue ulang tahun dengan lilin yang menyala. Gina dan Fani menyebar konfeti ke arahku. Dan seorang teman kesayanganku. Tersenyum lebar, mengembang. “Happy birthday Hana”, katanya. Kemudian mengecup puncak kepalaku.

Astaga.. hari ini aku berulang tahun? Anti, Gina, dan Fani riuh menggodaku akibat kecupan dari Aga. Kemudian mereka bertiga berebut bergantian mengucapkan selamat ulang tahun dan memelukku. Baru kusadari, tangan mungil itu adalah tangan Gina. Tangan besar itu adalah tangan Aga. Mungkin Gina dan Aga merendam tangan mereka dalam baskom es makanya tangan mereka berdua bisa sedingin itu. Kembang api pasti kerjaannya Fani.

Apakah aku berkhayal mengenai si adik kecil?

Cepat aku menoleh ke arah jendela kamarku lagi. Tidak ada. Mungkin selama ini aku berkhayal akibat kelelahan mengerjakan tugas skripsi itu. Abbi mungkin memang tidak menurunkan kemampuannya itu kepadaku. Sedikit bingung, aku heran mengenali perasaan yang meliputiku saat ini. Perasaan sedih.. eh?

Seperti biasa Anti, Gina, dan Fani heboh bertiga. Kali ini mereka menyuruhku cepat-cepat meniup lilin-lilin. Baru kusadari mereka baru saja menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku. Aku mencondongkan badanku, berusaha meniup lilin-lilin itu. Tiba-tiba tanganku terasa dingin. Berbeda saat Aga menutup mataku, atau saat Gina memegang jantungku. Kali ini seperti ada yang memegang tapi tidak nyata. Hanya terasa dingin, yang tiba-tiba.

Aku menoleh. Si adik kecil berdiri disampingku, bersemangat meniup lilin-lilin di atas kue ulang tahunku, sampai mati.

“Selamat ulang tahun, kakak”, katanya sambil tersenyum.

4 Responses to “[ss] adik kecil di malam itu”

  1. greengrinn June 14, 2010 at 6:05 am #

    serius itu beneran? astaga, tapi itu nyeritainnya bener-bener bikin tegang deh :D

    • nadiafriza June 14, 2010 at 8:59 am #

      bukan itu cerpen kok hehe..
      tapi cara kita nyeritainnya agak mirip walopun objek yg dilihatnya beda ;) ya..?

  2. Grace Receiver July 14, 2010 at 4:50 pm #

    Ini cerita horor ya? Koq ngga ada sambungannya? Masih penasaran nih adik kecil itu sebenarnya bagian dari lamunan Hana atau hantu?

    • nadiafriza July 14, 2010 at 6:21 pm #

      yup cerita horor :) makasi banget mbak udah baca.. ya ampun saya seneng banget :) apalagi pake nungguin sambungannya :) :)

      tapi itu udah the end kok mbak. ga da lanjutannya hehe ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 106 other followers

%d bloggers like this: